IndonesiaBuzz: Boyolali, 23 Desember 2024 – Desa Ringinlarik, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan berkat serangkaian penemuan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).
Terletak di kaki Gunung Merapi, desa ini menyimpan jejak kehidupan masa lampau yang terungkap melalui penemuan arca, yoni, hingga fragmen bangunan kuno.
Penemuan terbaru pada akhir September 2024 di Dukuh Tawangsari dan Mogol Kulon menghasilkan sembilan ODCB yang tengah diteliti Balai Pelestari Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa Tengah-DIY.
Sebelumnya, wilayah ini juga mencatat penemuan prasasti hingga peripih berisi inkripsi logam langka.
Kompleks Peradaban Masa Lalu
Pegiat sejarah lokal, Ody Dasa Fitranto, mengungkapkan bahwa temuan tersebut membuka kemungkinan Desa Ringinlarik dan Musuk pernah menjadi pusat peradaban manusia pada masa Hindu-Buddha.
“Dengan temuan terakhir, ditambah reruntuhan candi di embung, dan adanya situs dan temuan-temuan di dekat Ringinlarik, khususnya situs Tampirm temuan yoni jumbo, dan Ganesa jumbo yang ada di Desa Musuk yang bertetangga dengan Ringinlarik, tentu membuka kemungkinan bahwa di kedua wilayah tersebut pada zaman dulu merupakan kompleks peradaban yang cukup luas,” jelas Ody, Senin (23/12/2024).
Ody mengusulkan pendirian museum desa untuk mengamankan dan memamerkan ODCB yang selama ini disimpan di Museum R. Hamong Wardoyo Boyolali. Menurutnya, keberadaan museum desa dapat menjaga nilai sejarah sekaligus menjadi destinasi wisata edukasi.
“Ringinlarik sangat penting untuk memiliki museum desa karena tidak hanya temuan ODCB di wilayah Dukuh Tawangsari dan Mogol, sekitar 10 tahun yang lalu ada temuan reruntuhan candi saat pembuatan embung desa, dengan temuan ODCB yang cukup signifikan, yaitu adanya peripih dan lembaran logam berisikan inkripsi, hal yang sangat langka di Boyolali,” terangnya lebih lanjut.
Penemuan ODCB: Jejak Agama Hindu-Buddha
Pamong budaya ahli muda BPK X, Wardiyah, menyebut sembilan ODCB di Dukuh Tawangsari dan Mogol Kulon berasal dari periode klasik Hindu-Buddha. Di lokasi tersebut ditemukan yoni besar dengan cerat berbentuk selur-seluran serta fragmen kaki arca yang belum teridentifikasi.
“Kalau kami ingin menyatakan ini sebagai suatu korelasi atau lingkungan, memang bisa dinyatakan mungkin di masa lalu di wilayah ini cukup padat karena sebaran temuannya cukup banyak di wilayah Desa Ringinlarik,” ungkap Wardiyah, Kamis (3/10/2024) lalu.
Selain itu, ditemukan terakota berupa pipa saluran air kuno yang diduga terkait dengan struktur bangunan klasik.
“Ada juga temuan terakota [pipa saluran air kuno]. Nah, apakah terkorelasi, kami belum tahu. Namun, secara kedekatan iya. Nah, terakota kan juga ditemukan di masa klasik. Adakah suatu hubungan, kami juga membutuhkan kajian lebih lanjut,” imbuhnya.
Pripih Emas di Embung Ringinlarik
Penemuan peripih emas 18 karat pada proyek pembangunan Embung Ringinlarik tahun 2015 menjadi salah satu bukti penting lainnya. Peripih tersebut terdiri atas 22 lempengan emas dengan corak dan gaya tulisan yang mengindikasikan asal dari abad ke-8 Masehi.
Menurut Gutomo, Kasi Pelestarian BPCB Jateng saat itu, penemuan pripih dan reruntuhan candi memperkaya bukti sejarah keberadaan peradaban besar di wilayah ini.
Potensi Wisata Sejarah
Dengan berbagai temuan berharga ini, Desa Ringinlarik memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat wisata sejarah. Museum desa menjadi langkah strategis untuk melestarikan warisan budaya dan menarik perhatian wisatawan yang ingin menyaksikan jejak masa lalu Boyolali.
Ringinlarik kini berdiri sebagai bukti nyata kekayaan sejarah dan budaya Jawa Tengah yang menunggu untuk terus digali dan dikenang. @indonesiabuzz





