IndonesiaBuzz: Magetan, 12 Februari 2026 – Gelombang protes warga terhadap kondisi jalan rusak di Kabupaten Magetan kian meluas. Dari Kecamatan Panekan hingga Lembeyan, warga melakukan aksi simbolis dengan menanam pohon pisang di tengah lubang jalan sebagai bentuk kekecewaan atas lambannya penanganan infrastruktur.
Di Desa Tepen, Kecamatan Lembeyan, pohon pisang sengaja ditanam tepat di ruas jalan kabupaten yang mengalami kerusakan parah. Jalan tersebut merupakan akses vital penghubung aktivitas warga, mulai dari bekerja, berdagang, hingga mengantar anak ke sekolah.
Lubang lubang besar yang menganga di badan jalan tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga disebut telah memicu sejumlah kecelakaan lalu lintas.
“Sudah sering terjadi kecelakaan di sini. Kami tidak ingin ada korban jiwa lagi. Karena perbaikan belum kunjung dilakukan, kami tandai dengan pohon pisang agar pengendara lebih waspada,” ujar Purwanto, warga setempat, Kamis (11/2/26).
Fenomena serupa sebelumnya muncul di sejumlah titik lain di Magetan. Aksi tanam pisang di tengah jalan rusak menjadi simbol peringatan sekaligus kritik terbuka terhadap pemerintah daerah.
Warga menilai penanganan infrastruktur kerap berjalan lambat dan baru mendapat perhatian serius setelah menjadi perbincangan luas di masyarakat.
“Ini bukan jalan kecil, melainkan jalan kabupaten yang menjadi penghubung vital antar desa dan kecamatan. Seharusnya ditangani dengan cepat, tanpa harus menunggu viral terlebih dahulu,” tegas Mansur, warga lainnya.
Kerusakan jalan berdampak langsung pada denyut ekonomi lokal. Ruas-ruas tersebut setiap hari dilintasi pelajar, pedagang, serta pekerja lintas wilayah. Ketika akses terganggu, distribusi barang tersendat dan risiko kecelakaan meningkat.
Menanggapi keluhan warga, Kepala Bidang Bina Marga dan Jembatan Dinas PUPR Kabupaten Magetan, Hariyanto, mengakui adanya kerusakan di sejumlah ruas jalan, terutama setelah hujan deras dalam beberapa hari terakhir.
Menurut dia, perbaikan dilakukan secara bertahap oleh tim UPTD dan Unit Reaksi Cepat (URC) berdasarkan skala prioritas.
“Tidak semua titik bisa dikerjakan sekaligus. Untuk lokasi yang belum tertangani, akan segera dipasang rambu peringatan,” jelas Hariyanto.
Namun, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan keresahan warga. Desakan agar Pemerintah Kabupaten Magetan bergerak lebih cepat dan proaktif terus menguat.
Pohon pohon pisang yang kini berdiri di tengah jalan bukan sekadar penanda lubang berbahaya. Ia telah menjelma menjadi simbol kritik sosial—pengingat bahwa infrastruktur dasar adalah kebutuhan mendesak masyarakat yang menuntut respons cepat, terukur, dan berkelanjutan dari pemerintah daerah. (Agus Pujiono/ Koresponden Magetan)







