Indonesiabuzz: Karanganyar, 30 Juni 2026 – Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi sakral Wilujengan Kiblat Sekawan dalam rangka memperingati Bulan Sura 2026 atau Tahun Jawa Be 1960, Selasa (30/6/2026). Prosesi yang berlangsung di kawasan Gerbang Pendakian Cemoro Kandang, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, ini menjadi pelaksanaan perdana pada masa pemerintahan Raja Kraton Kasunanan Surakarta, Sri Susuhunan Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan (SISKS) Pakoe Boewono XIV.
Wilujengan Kiblat Sekawan merupakan agenda rutin yang digelar setiap Bulan Sura. Tradisi spiritual ini melambangkan empat penjuru mata angin sebagai penyangga eksistensi Kraton Kasunanan Surakarta sekaligus menjadi bentuk permohonan keselamatan bagi masyarakat dan alam semesta.
Pelaksanaan tahun ini digelar atas dhawuh atau perintah langsung SISKS Pakoe Boewono xiv sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Sura yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai bulan yang sarat nilai spiritual.
Prosesi dimulai dari arah timur, yakni di kawasan lereng Gunung Lawu, tepatnya di Gerbang Pendakian Cemoro Kandang. Lokasi tersebut dipilih karena diyakini memiliki keterkaitan erat dengan keseimbangan spiritual Kraton Kasunanan Surakarta.
Sejak pagi hari, suasana prosesi berlangsung khidmat. Ratusan Abdi Dalem, kerabat, dan Sentana Dalem berkumpul untuk mengikuti rangkaian wilujengan atau doa bersama yang dipimpin ulama Kraton. Seluruh peserta mengikuti setiap tahapan ritual dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur yang terus dijaga hingga kini.
Para Abdi Dalem mengenakan busana adat Jawa lengkap yang semakin menambah nuansa sakral selama prosesi berlangsung. Kehadiran mereka tidak hanya menjadi simbol pengabdian kepada Raja, tetapi juga mencerminkan komitmen Kraton dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Doa-doa yang dipanjatkan dalam Wilujengan Kiblat Sekawan ditujukan untuk memohon keselamatan, ketenteraman, kesejahteraan, serta perlindungan dari berbagai marabahaya bagi masyarakat. Ritual ini juga menjadi simbol harapan agar hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta senantiasa terjaga dalam harmoni.
SISKS Pakoe Boewono XIV hadir langsung memimpin prosesi tersebut. Turut hadir Prameswari PB XIII sekaligus Ibunda PB XIV, GKR Ageng, bersama keluarga Raja, Abdi Dalem, kerabat, dan Sentana Dalem.

PB XIV hadir langsung memimpin wilujengan kiblat sekawan di Gunung Lawu.
Kehadiran seluruh unsur keluarga Kraton menjadikan Wilujengan Kiblat Sekawan tidak sekadar seremoni budaya, tetapi juga momentum spiritual yang mempererat hubungan antara Kraton, masyarakat, dan alam.
Pengangeng Parentah Kraton Kasunanan Surakarta, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, menjelaskan bahwa Kiblat Sekawan merupakan agenda tetap yang selalu dilaksanakan setiap Bulan Sura.
“Kegiatan di Gunung Lawu mencerminkan filosofi keseimbangan alam yang terus dijaga Karaton Kasunanan Surakarta. Dalam pandangan karaton, kehidupan harus berjalan selaras, yaitu harmonis antara manusia dengan alam, manusia dengan sesama makhluk hidup, dan manusia dengan Allah SWT,” ujar KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo.
Ia menjelaskan, setiap prosesi di Gunung Lawu memiliki makna yang utuh dan mendalam. Menurutnya, ritual tersebut tidak hanya mengandung nilai sejarah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan penguatan spiritual yang dapat ditelusuri melalui berbagai peninggalan budaya di kawasan Lawu, seperti Candi Cetho dan sejumlah situs bersejarah lainnya.
KGPH Dipokusumo juga menegaskan bahwa sesaji yang digunakan dalam prosesi bukan merupakan bentuk pemujaan, melainkan simbol rasa syukur kepada Allah SWT.
“Seluruh unsur sesaji berasal dari ciptaan Allah SWT, mulai dari hasil pertanian, makanan, tumbuh-tumbuhan, hingga hewan. Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia dapat memanfaatkan seluruh ciptaan Allah secara bijaksana untuk kemaslahatan bersama,” katanya.
Menurutnya, proses pengolahan sesaji hingga menjadi hidangan siap saji merupakan bentuk ungkapan syukur sekaligus pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya.
Dalam tradisi Kraton Kasunanan Surakarta, Kiblat Sekawan dimaknai sebagai empat titik penjuru mata angin yang berfungsi sebagai penyangga keseimbangan kerajaan. Keempat titik tersebut meliputi Gunung Lawu di timur, Pantai Parangkusumo di selatan, Gunung Merapi di barat, dan Alas Krendowahono di utara.
Masing-masing lokasi memiliki nilai filosofis dan spiritual yang saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan kosmis. Pelaksanaan Wilujengan Kiblat Sekawan dilakukan secara bergantian di setiap titik tersebut sebagai simbol penyatuan kekuatan alam, budaya, dan spiritualitas.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa keberlangsungan Kraton tidak hanya ditopang oleh aspek sejarah dan budaya, tetapi juga oleh nilai-nilai spiritual yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui penyelenggaraan Wilujengan Kiblat Sekawan pada Bulan Sura 2026, Kraton Kasunanan Surakarta kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya Jawa serta menjaga harmoni hubungan antara manusia, alam, budaya, dan nilai-nilai spiritual. @eko-m




