IndonesiaBuzz: Semarang, 26 Juni 2026 – Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Polda Jawa Tengah tidak hanya diisi dengan rangkaian kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi ruang memperkuat nilai persatuan di tengah keberagaman. Melalui Doa Bersama Lintas Agama yang digelar di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah, Kamis (25/6/26), kepolisian mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan toleransi sebagai fondasi utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol Latif Usman, para Pejabat Utama Polda Jateng, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jawa Tengah, tokoh lintas agama, pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang, serta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Semarang.
Seluruh Polres jajaran Polda Jawa Tengah juga mengikuti kegiatan tersebut secara virtual, menjadikan doa bersama sebagai momentum yang berlangsung serentak di berbagai wilayah.
Dalam kesempatan tersebut, Wakapolda Jawa Tengah membacakan sambutan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ribut Hari Wibowo. Melalui sambutan itu ditegaskan bahwa Hari Bhayangkara bukan sekadar peringatan institusional, melainkan momentum memperkuat kolaborasi antara Polri dan masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan.
“Hari Bhayangkara bukan hanya milik institusi Polri, tetapi juga milik seluruh elemen masyarakat. Keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab kita bersama. Melalui momentum ini, kami ingin merefleksikan kembali komitmen untuk senantiasa melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat dengan penuh ketulusan hati,” demikian kutipan sambutan Kapolda yang dibacakan Wakapolda.
Kapolda juga mengingatkan bahwa rasa aman merupakan hak dasar setiap warga negara. Karena itu, berbagai tantangan seperti intoleransi, konflik sosial, penyebaran kebencian, hingga gangguan kamtibmas lainnya harus dihadapi melalui semangat persatuan, dialog, dan gotong royong.
Menurutnya, keamanan tidak dapat dibangun hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui penguatan harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Salah satu momen yang paling mencerminkan semangat kebhinekaan dalam kegiatan tersebut adalah ketika doa dipanjatkan secara bergantian oleh tokoh dari enam agama yang diakui di Indonesia.
Doa Islam dipimpin Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah Prof. Dr. Imam Yahya, Sementara doa Kristen dipimpin Pdt. Yosua Wardaya, doa Katolik oleh Sr. Krista Yustina Susilawati, doa Hindu oleh Drs. I Dewa Made Artasya, doa Buddha oleh Tanto Soegito Harsono, serta doa Konghucu oleh WS. Andi Gunawan,
Keberagaman pemimpin doa yang duduk dalam satu forum menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga perdamaian dan persatuan bangsa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, K.H. Fachturozi,
Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh personel Polri memaknai tugas sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menurutnya, ketika pengabdian dilandasi rasa syukur dan keikhlasan, pelayanan kepada masyarakat akan lahir secara tulus tanpa sekadar menjadi kewajiban administratif.
“Ketika tugas dijalankan dengan niat ibadah dan rasa syukur, maka akan lahir kebahagiaan dalam diri setiap personel. Dengan hati yang bahagia, seseorang akan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Semangat pengabdian itulah yang harus terus dijaga untuk mewujudkan Polri yang Presisi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rasa syukur merupakan fondasi moral yang akan membentuk integritas sekaligus memperkuat profesionalisme aparat dalam menjalankan amanah menjaga keamanan masyarakat.
Menanggapi pelaksanaan kegiatan tersebut, Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto menilai doa bersama lintas agama mencerminkan kuatnya budaya toleransi yang selama ini tumbuh di Jawa Tengah.
Menurutnya, kehadiran tokoh agama, unsur pemerintah, mahasiswa, hingga masyarakat sipil menunjukkan bahwa menjaga keamanan bukan semata tanggung jawab aparat kepolisian.
“Momentum Hari Bhayangkara ke-80 ini kami maknai sebagai ajang mempererat kebersamaan seluruh elemen masyarakat. Kehadiran tokoh lintas agama, Forkopimda, mahasiswa, dan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas Polri, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan semangat toleransi dan gotong royong, kami optimis situasi kamtibmas di Jawa Tengah akan tetap aman, damai, dan harmonis,” kata Artanto.
Di tengah meningkatnya tantangan sosial pada era digital, mulai dari penyebaran disinformasi hingga potensi polarisasi masyarakat, forum lintas agama seperti ini memiliki makna yang jauh melampaui kegiatan seremonial.
Doa bersama menjadi simbol bahwa keamanan tidak hanya dibangun melalui patroli, penegakan hukum, maupun strategi kepolisian, tetapi juga melalui penguatan kepercayaan, dialog, dan solidaritas antarkelompok masyarakat.
Semangat Hari Bhayangkara ke-80 yang mengusung pengabdian kepada rakyat pun menemukan maknanya ketika Polri mampu menjadi ruang pemersatu berbagai elemen bangsa. Dengan menjadikan toleransi sebagai kekuatan bersama, Polda Jawa Tengah berharap stabilitas keamanan yang selama ini terjaga dapat terus menjadi modal penting bagi pembangunan dan kehidupan masyarakat yang damai, inklusif, dan harmonis. (Red – Ho Polda Jateng).







