IndonesiaBuzz: Bojonegoro, 10 Juni 2026 – Struktur ekonomi Kabupaten Bojonegoro mulai menunjukkan perubahan signifikan. Setelah bertahun-tahun bergantung pada sektor minyak dan gas bumi (migas), kini sejumlah sektor nonmigas tampil sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah di tengah melambatnya kinerja industri pertambangan.
Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan I Tahun 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa meskipun sektor pertambangan masih menjadi kontributor terbesar perekonomian dengan porsi 42,03 persen, dominasi tersebut mulai berkurang. Sebanyak 16 sektor ekonomi lainnya kini secara kolektif menyumbang 57,97 persen terhadap total perekonomian daerah.
Perubahan komposisi tersebut menjadi sinyal bahwa ekonomi Bojonegoro mulai bergerak menuju struktur yang lebih beragam dan tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada sumber daya ekstraktif.
Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, mengatakan nilai PDRB Bojonegoro atas dasar harga berlaku pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai Rp28,44 triliun. Nilai tersebut masih menempatkan Bojonegoro sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama di wilayah barat Jawa Timur.
Sebagai perbandingan, nilai PDRB Bojonegoro masih berada di atas sejumlah daerah sekitar seperti Kabupaten Lamongan yang mencatat Rp14,99 triliun, Kabupaten Nganjuk Rp10,57 triliun, Kabupaten Ngawi Rp7,43 triliun, bahkan melampaui Kabupaten Tuban yang mencapai Rp25,43 triliun.
“Besarnya nilai PDRB tersebut semakin mengukuhkan Bojonegoro sebagai salah satu penyangga kekuatan ekonomi Jawa Timur, meskipun tantangan transisi dari sektor migas terus menjadi perhatian pemerintah daerah,” kata Syawaluddin, Rabu (10/6/26).
Di tengah belum optimalnya lifting migas yang menyebabkan sektor pertambangan mengalami perlambatan, perekonomian Bojonegoro tetap mampu mencatatkan pertumbuhan positif.
Secara tahunan (year-on-year), ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh sebesar 0,02 persen. Namun jika sektor pertambangan dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro melonjak hingga 7,34 persen.
Angka tersebut menunjukkan adanya transformasi ekonomi yang cukup kuat dibandingkan kondisi tahun 2023 ketika Bojonegoro sempat mengalami kontraksi ekonomi hingga minus 3,49 persen akibat pelemahan sektor migas.
Menurut Syawaluddin, capaian tersebut tidak lepas dari kontribusi sektor-sektor produktif yang memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Pertanian tumbuh 11,38 persen. Ketika pertanian tumbuh tinggi, itulah yang menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif dan tidak kembali minus,” ujarnya.
Sektor pertanian menjadi bintang pertumbuhan ekonomi Bojonegoro pada awal 2026. Berdasarkan data BPS, sektor ini tumbuh sebesar 11,38 persen, didorong oleh peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya padi dan jagung.
Kinerja sektor pertanian menjadi semakin strategis karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus mendistribusikan manfaat ekonomi secara lebih merata dibanding sektor pertambangan yang bersifat padat modal.
Selain pertanian, sejumlah sektor jasa juga menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan. Lapangan usaha jasa lainnya mencatat pertumbuhan 14,77 persen, sementara kelompok sektor lain-lain mencapai 14,93 persen.
Sektor akomodasi dan makan minum juga tumbuh tinggi sebesar 11,37 persen seiring meningkatnya aktivitas wisata, hiburan, serta mobilitas masyarakat pascapandemi dan berkembangnya destinasi ekonomi lokal.
Pertumbuhan positif juga tercatat pada sektor perdagangan sebesar 6,46 persen, informasi dan komunikasi 7,73 persen, transportasi dan pergudangan 6,92 persen, serta jasa perusahaan yang tumbuh 9,94 persen.
BPS menilai sejumlah program pemerintah mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi lokal. Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai mendorong peningkatan permintaan pada sektor penyediaan makanan dan minuman.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah tidak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap aktivitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Pengalaman kontraksi ekonomi pada 2023 menjadi pelajaran penting bagi Bojonegoro mengenai risiko ketergantungan terhadap sektor migas. Ketika produksi migas menurun, perekonomian daerah ikut tertekan.
Karena itu, pemerintah daerah kini semakin serius mendorong diversifikasi ekonomi melalui penguatan sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, industri pengolahan, serta berbagai sektor jasa yang memiliki daya tahan lebih kuat terhadap gejolak pasar global.
“Pertumbuhan ekonomi harus bergerak inklusif. Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bojonegoro karena manfaatnya dirasakan lebih luas dibandingkan sektor pertambangan,” tegas Syawaluddin.
Dalam peta ekonomi kawasan Gerbangkertosusila Plus (G+), Bojonegoro saat ini berada pada posisi kesembilan dengan kontribusi sekitar 3,20 persen terhadap total perekonomian Jawa Timur.
Ke depan, tantangan terbesar Bojonegoro bukan lagi sekadar mempertahankan status sebagai daerah penghasil migas, melainkan memastikan transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan, berdaya tahan, dan mampu menciptakan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat. Data Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan bahwa arah transformasi tersebut mulai terlihat, dengan sektor nonmigas perlahan mengambil peran sebagai mesin pertumbuhan baru ekonomi daerah. (M.Thohir /Koresponden Bojonegoro).







