IndonesiaBuzz: Bojonegoro, 8 Oktober 2025 – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mendorong budaya membaca dan pelestarian bahasa daerah. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Pemkab menggelar talkshow SAPA! Malowopati FM pada Selasa (7/10/25) dengan menggandeng Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.
Talkshow tersebut menghadirkan Ketua Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Puji Retno Hardiningtyas Tim Penerjemah BBP Jatim Awaludin Rusiandi, serta perwakilan Dinas Kominfo Bojonegoro Emi Sudarwati.
Selain talkshow, Pemkab Bojonegoro bersama UPT Kemendikdasmen Jawa Timur juga menggelar kegiatan Uji Keterbacaan Naskah Cerita Anak Dwibahasa di SDN Kepatihan Bojonegoro.
Ketua Balai Bahasa Jatim, Puji Retno, menjelaskan bahwa uji keterbacaan merupakan tahapan penting sebelum naskah atau buku disebarluaskan ke masyarakat. Tujuannya untuk memastikan isi cerita sesuai dengan jenjang pembaca dan mudah dipahami anak-anak.
“Kami ingin mengetahui sejauh mana anak-anak dapat memahami isi cerita, apakah bahasanya mudah diterima dan sesuai dengan konteks budaya mereka,” ujarnya.
Bojonegoro dipilih sebagai lokasi uji coba karena memiliki banyak penulis lokal dan dianggap representatif untuk wilayah barat Jawa Timur. Bahkan, salah satu cerita anak yang diuji berlatar Bojonegoro.
Sebanyak 16 judul cerita anak dwibahasa diuji dalam kegiatan tersebut. Retno menambahkan bahwa setiap produk dari Kementerian Pendidikan harus melalui proses validasi ketat, mulai dari penilaian oleh anak-anak sebagai pembaca pertama hingga evaluasi oleh Pusat Kurikulum. Setelah mendapat Surat Keputusan Menteri, barulah buku dapat dicetak dan disebarluaskan.
Menariknya, muatan lokal di Jawa Timur berpotensi besar dimasukkan ke dalam buku cerita anak. Buku-buku tersebut juga akan hadir dalam berbagai format seperti aksara braille dan audiobook agar lebih inklusif dan mudah diakses masyarakat luas.
Sementara itu, Awaludin Rusiandi dari BBP Jatim menjelaskan bahwa seluruh proses penerjemahan buku anak dilakukan oleh tenaga dari Jawa Timur mulai dari penerjemah, ilustrator, hingga layouter.
“Ini bukan sekadar proyek penerjemahan, tapi juga upaya memberdayakan masyarakat lokal. Dari isi cerita, bahasa, hingga gambar, semua berakar dari budaya Jawa Timur,” ungkapnya.
Awaludin menambahkan bahwa menerjemahkan cerita anak bukan pekerjaan mudah karena bahasa yang digunakan harus sesuai dengan tingkat pemahaman dan psikologi anak. “Membuat cerita untuk anak itu membawa tanggung jawab moral. Kami ingin hasilnya tetap ringan tapi bermakna,” ucapnya.
Ke depan, buku-buku tersebut direncanakan akan diterjemahkan ke berbagai bahasa lain agar bisa menembus pasar internasional.
Bahasa daerah yang diuji di SDN Kepatihan meliputi tiga varian, yakni Bahasa Jawa, Jawa Dialek Osing, dan Bahasa Madura. Upaya ini diharapkan dapat membantu siswa mengenal keragaman bahasa daerah di Pulau Jawa. Tiap cerita juga mengandung unsur STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) untuk menumbuhkan daya pikir kritis dan kreatif anak-anak.
Dari pihak Pemkab, Emi Sudarwati menegaskan bahwa Bojonegoro terus mendukung penguatan budaya berbahasa daerah melalui berbagai kegiatan literasi seperti lomba bertutur dan pelatihan menulis.
“Kami ingin anak-anak Bojonegoro bangga menggunakan bahasa daerahnya. Jangan takut salah, karena belajar bahasa itu harus menyenangkan,” tuturnya.
Sebagai penutup, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan literasi, baik sebagai penulis, ilustrator, maupun penerjemah. Informasi terkait seleksi naskah dan kolaborasi dapat diakses melalui laman resmi www.balaibahasajatim.kemendikdasmen.go.id dan media sosial Balai Bahasa Jatim.







