Saturday, June 13, 2026
POJOK MILENIAL
Indonesiabuzz.com
  • Terbaru
  • Terpopuler
  • Topik Pilihan
No Result
View All Result
Indonesiabuzz.com
No Result
View All Result
Home Humaniora Menolak Lupa

Kasus Sum Kuning: Sebuah Tragedi atau Rekayasa Kekuasaan?

by Wartonagoro
September 22, 2025
Reading Time: 3 mins read
Kasus Sum Kuning, Sebuah Tragedi atau Rekayasa Kekuasaan?

Ilustrasi: IB)

IndonesiaBuzz: Menolak Lupa – Pada September 1970, Kasus Sum Kuning mengguncang Yogyakarta. Sebuah peristiwa yang memicu gejolak tak berujung pada panggung pengadilan. Tragedi yang juga membelah narasi kebenaran.

Lebih dari sekadar kasus pemerkosaan, tragedi ini menjelma menjadi simbol ketidakadilan hukum dan arogansi kekuasaan pada era Orde Baru. Kasus ini bukanlah sekadar cerita usang, melainkan sebuah cermin yang merefleksikan bagaimana hukum tunduk pada kekuasaan, dan keadilan menjadi barang langka.

Kronologi dan Fakta yang Dibungkam

Kasus ini berawal dari nasib tragis Sum Kuning, seorang penjual telur berusia 17 tahun, yang diculik dan diperkosa secara bergilir oleh sekelompok pemuda. Identitas para pelaku segera menjadi desas-desus publik. Mereka disebut-sebut sebagai “anak orang terkemuka” dan “anak petinggi,” sebuah frasa yang pada masanya identik dengan impunitas.

Alih-alih menangkap dan mengadili pelaku, narasi yang dibangun oleh aparat justru berbalik 180 derajat. Korban, Sum Kuning, yang seharusnya dilindungi, malah dituduh melakukan pemalsuan laporan dan menyebarkan berita bohong. Ia diinterogasi berhari-hari, seolah-olah dialah sang penjahat.

BeritaTerkait

Kraton Surakarta Gelar Kirab Malam Selikuran, Padukan Ritual, Budaya, dan Syiar Islam

Sadranan Kajoran Jadi Simbol Sinergi Warga dan Karaton Surakarta

Di sisi lain, polisi menghadirkan seorang tukang bakso bernama Trimo, yang dipaksa mengaku sebagai pelaku tunggal. Langkah hukum ini, yang dikenal sebagai “rekayasa kasus”, adalah upaya sistematis untuk melindungi para pelaku sesungguhnya dan menutupi jejak kekuasaan.

Intervensi Kekuasaan dan Kontroversi Putusan

Jalan kasus ini mencapai titik klimaksnya saat Kepala Kepolisian RI (Kapolri) pada saat itu, Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, turun tangan. Hoegeng, dikenal sebagai sosok yang berintegritas, membentuk tim khusus untuk mengusut kasus ini. Dalam memoar dan kesaksiannya, Hoegeng mengakui bahwa kasus Sum Kuning adalah “kasus rekayasa” yang penuh dengan intervensi dari “orang kuat”.

Namun, perlawanan Hoegeng terhadap tekanan politik berakhir tragis. Ia diberhentikan dari jabatannya pada akhir 1971, sebuah langkah yang diyakini banyak pihak terkait erat dengan upayanya membongkar kasus ini.

Tanpa kehadiran Hoegeng, kasus ini meluncur ke pengadilan dengan cepat. Pada akhirnya, pengadilan justru memvonis Sum Kuning bersalah atas tuduhan keterangan palsu, sementara pelaku sesungguhnya tak pernah terungkap.

Putusan ini adalah aib bagi sistem peradilan Indonesia dan menorehkan luka yang mendalam bagi keadilan. Pengadilan, yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi kebenaran, justru menjadi alat pembenaran bagi kekuasaan yang zalim.

Dampak Sosial-Politik: Simbol Pembungkaman

Lebih dari sekadar kasus kriminal, Sum Kuning menjadi simbol perlawanan dan pembungkaman pada era Orde Baru. Kasus ini membangkitkan gelombang demonstrasi dari gerakan mahasiswa yang menuntut keadilan.

Kasus ini juga menempatkan media massa dalam posisi sulit. Beberapa media yang berani memberitakan kasus ini dengan kritis, termasuk koran Indonesia Raya dan Mahasiswa Indonesia, mendapatkan sanksi dan tekanan keras dari pemerintah.

Kasus Sum Kuning menjadi pelajaran pahit tentang bagaimana hak asasi manusia, kebebasan pers, dan independensi hukum bisa dengan mudah ditekan demi melanggengkan kekuasaan. Tragedi ini bukan hanya tentang nasib seorang gadis, tetapi juga tentang runtuhnya moralitas di hadapan politik.

Hingga hari ini, jejak digital mengenai nasib Sum Kuning setelah kasusnya teramat minim. Kehidupan dan keberadaannya seolah sengaja dihilangkan dari ingatan kolektif, sebuah simbol dari betapa efektifnya rezim Orde Baru dalam membungkam dan “menghilangkan” mereka yang dianggap mengganggu stabilitas kekuasaan.

Kasus Sum Kuning bukanlah tragedi biasa. Ia adalah sebuah narasi tentang bagaimana kebenaran dapat direkayasa dan keadilan dapat dibeli. Kisah ini adalah pengingat bahwa hukum tanpa integritas hanyalah alat bagi penguasa, dan bahwa masyarakat harus terus menuntut transparansi dan akuntabilitas.

Menolak lupa atas kasus Sum Kuning berarti menolak lupa bahwa sejarah pernah mencatat sebuah tragedi yang dipicu oleh kekuasaan dan dibiarkan tanpa penyelesaian. @wartonagoro

Tags: HistoriaHoegeng Iman SantosoHumanioraMenolak LupasejarahSum KuningYogyakarta
Share222SendScan

Trending

Massa Mahasiswa Bertahan di Thamrin hingga Malam, Aksi di Bundaran HI Berlangsung Kondusif di Bawah Pengawalan Ketat
News

Massa Mahasiswa Bertahan di Thamrin hingga Malam, Aksi di Bundaran HI Berlangsung Kondusif di Bawah Pengawalan Ketat

6 hours ago
Polres Wonogiri Bongkar Jaringan Curanmor Lintas Wilayah, Pelaku Beraksi hingga Pacitan
News

Polres Wonogiri Bongkar Jaringan Curanmor Lintas Wilayah, Pelaku Beraksi hingga Pacitan

10 hours ago
BEM UI Kerahkan Seribu Mahasiswa ke Bundaran HI, Soroti Krisis Ekonomi dan Kebijakan Pemerintah
News

BEM UI Kerahkan Seribu Mahasiswa ke Bundaran HI, Soroti Krisis Ekonomi dan Kebijakan Pemerintah

10 hours ago
Tiga Gunung Api di Indonesia Timur Meletus Hampir Bersamaan, Badan Geologi Tingkatkan Kewaspadaan
News

Tiga Gunung Api di Indonesia Timur Meletus Hampir Bersamaan, Badan Geologi Tingkatkan Kewaspadaan

16 hours ago
Jelang Bulan Suro, Muspika Kartoharjo Bekali 149 Calon Warga PSHT untuk Jaga Persaudaraan dan Kamtibmas
News

Jelang Bulan Suro, Muspika Kartoharjo Bekali 149 Calon Warga PSHT untuk Jaga Persaudaraan dan Kamtibmas

18 hours ago
Indonesiabuzz.com

Enter your email address

TERBARU

Massa Mahasiswa Bertahan di Thamrin hingga Malam, Aksi di Bundaran HI Berlangsung Kondusif di Bawah Pengawalan Ketat

Massa Mahasiswa Bertahan di Thamrin hingga Malam, Aksi di Bundaran HI Berlangsung Kondusif di Bawah Pengawalan Ketat

June 12, 2026
Polres Wonogiri Bongkar Jaringan Curanmor Lintas Wilayah, Pelaku Beraksi hingga Pacitan

Polres Wonogiri Bongkar Jaringan Curanmor Lintas Wilayah, Pelaku Beraksi hingga Pacitan

June 12, 2026

TERPOPULER

SD Al Husna IFDS Madiun Konsisten Bentuk Generasi Berkarakter dan Berprestasi

Atlet Muda Wushu Ngawi Bersinar di Kejurprov Jatim 2026, Raih Lima Emas dan Enam Perak

CV. Bangkit Apresiasi Pemkot Madiun Batalkan Tender Gedung Rawat Inap

Kyai Kolo Dete: Misteri Leluhur Bocah Gimbal Dieng

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami
  • Sitemap

Copyright © 2022-2023, IndonesiaBuzz.com. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Buzz
  • Halo Indonesia
  • News
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum & Kriminal
    • Politik & Pemerintahan
    • Sosial Kemasyarakatan
  • Tokoh
  • Entertainment
    • Hiburan
    • Selebritis
  • Humaniora
    • Budaya
    • Historia
    • Sastra
    • Inspirasi
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Finansial
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Otomotif
    • Relationship
    • Sport
    • Teknologi
    • Wanita
  • Sudut Pandang
    • Celoteh
    • Kata Pakar
    • Opini
  • Travel & Staycation
  • Pojok Milenial
  • Foto

Copyright © 2022-2023, IndonesiaBuzz.com. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In