IndonesiaBuzz: Surakarta, 5 September 2025 – Ribuan warga memadati halaman Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah, Jumat, 5 September 2025 (12 Rabiulawal 1447 H). Sorak riuh membuncah begitu doa usai dikumandangkan sebuah gunungan jaler langsung menjadi rebutan. Lambaian tangan, teriakan, dan tumpukan badan beradu cepat menyambar sayur-mayur di puncak perayaan Sekaten 2025 Kraton Kasunanan Surakarta itu.
Dua pasang gunungan, sepasang jaler (laki-laki) dan sepasang estri (perempuan) dikirab para abdi dalem dari Kraton menuju Masjid Agung untuk didoakan. Seusai doa, satu gunungan jaler dibiarkan “dirayah” warga di halaman masjid. Tiga gunungan lainnya dibawa kembali menuju Kori Kamandungan Kraton untuk kembali diperebutkan oleh masyarakat yang sudah menanti.
Setiap tahun, kraton yang dipimpin SISKS. Pakoe Boewono XIII tersebut rutin menggelar Grebeg Maulud dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tahun ini, Maulid bertepatan dengan Jumat, 5 September 2025. Di Surakarta, prosesi Grebeg menjadi puncak rangkaian Sekaten sebuah tradisi berusia ratusan tahun yang memadukan syiar keagamaan dan budaya Jawa.
Grebeg Maulud adalah Ekspresi Syukur Kraton Surakarta
Makna simbolik gunungan ditegaskan Pengageng Sasana Wilapa, KPA. H. Dani Nur Adiningrat. “Gunungan dalam tradisi Grebeg Maulud menggambarkan bahwa hidup ini tidak bisa lepas dari laki-laki dan perempuan,” ujarnya usai prosesi Grebeg Maulud.
Ia menjelaskan, gunungan jaler berisi sayur-sayuran mentah kacang panjang, terong, wortel, cabai, dan lainnya sebagai representasi peran laki-laki.
“Sedangkan gunungan istri (perempuan) adalah makanan siap saji. Artinya, istri harus mampu menerima hasil dari suami untuk keluarganya,” kata Dani.
Ia menambahkan, Grebeg Maulud adalah ekspresi syukur Kraton atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Makanya gunungan ini ditempatkan pada tanggal 12 Rabiulawal. Jadi puncaknya di tanggal 12,” ujarnya.
Harapannya, lanjut Dani, simbol-simbol yang hadir dalam Grebeg dapat ditangkap maknanya oleh masyarakat. “Harapan kita masyarakat menjadi tenteram, damai. Negara kita juga akan tenteram dan damai,” tuturnya.
Gunungan adalah Sedekah
Sementara itu, di tengah suhu politik nasional yang menghangat, KPA. Hari Andri Winarso Wartonagoro, salah seorang Sentono Dalem Kraton Surakarta menilai Sekaten relevan sebagai cermin etika kekuasaan dan relasi rakyat–negara.
“Gunungan itu sedekah, bukan pamer kuasa. Ia mengajarkan bahwa mandat tertinggi dalam politik adalah mendistribusikan berkah, bukan menumpuk simbol. Kalau kebijakan publik menyinggung rasa keadilan, Sekaten mengingatkan pemimpin untuk menata ulang niat: melayani, bukan dilayani,” ujar Wakil Direktur Utama Indonesiabuzz.com itu.
Menurutnya, dua gunungan jaler dan estri adalah metafor keseimbangan: kekuatan dan welas asih, ketegasan dan empati, checks and balances yang seharusnya hadir dalam desain kekuasaan.
“Gamelan Sekaten syahadatain menegaskan sumber legitimasi: keimanan, keadaban, dan kepercayaan rakyat. Di tengah gejolak, akuntabilitas dan transparansi mesti jadi tempo yang menuntun langkah negara,” katanya.
Ia menutup dengan ajakan merawat iklim dialog. “Grebeg mengajak orang ramai ‘berebut berkah’ dengan tertib. Politik pun semestinya memberi akses adil pada kesejahteraan bukan memonopoli rezeki, apalagi menutup ruang dengar. Jika Sekaten bisa menyatukan istana dan rakyat, negara juga bisa merapat ke rakyat tanpa kekerasan dan tanpa kehilangan wibawa.”
Meski zaman berganti, animo publik tak surut. Tiap tahun, warga dari berbagai penjuru tetap datang, sebagian membawa keluarga, berharap secuil berkah dari gunungan yang mereka bawa pulang. Di situ, tradisi bekerja sebagai ingatan kolektif warisan leluhur dirawat, kebersamaan dirayakan, dan syukur dikukuhkan tepat di jantung kota Solo, di bawah bayang Masjid Agung dan tembok Kraton. @indonesiabuzz







