IndonesiaBuzz: Travel & Staycation – Gemuruh air terdengar jelas dari balik kabut pegunungan. Di antara tebing hijau dan ladang sayur yang menghiasi lereng, sebuah tirai air setinggi lebih dari seratus meter jatuh megah ke lembah. Itulah Curug Sikarim, air terjun yang kerap disebut sebagai salah satu permata tersembunyi di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.
Berada di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut, Curug Sikarim menjulang setinggi ±125 meter. Sumber alirannya berasal dari Telaga Cebong, telaga alami yang tak jauh dari Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa. Saat debit air meningkat, alirannya bahkan bisa membelah menjadi beberapa jalur, menghadirkan pemandangan bak air terjun kembar.

Panorama di Atas Awan
Dari kejauhan, Curug Sikarim sering tampak misterius. Kabut tipis yang menyelimuti Dieng membuat puncak air terjun seolah hilang ditelan awan. Banyak pengunjung menyebutnya “air terjun di atas awan”.
Dari kaki curug, butiran air yang berkilau tertimpa sinar matahari kerap membentuk pelangi kecil—bonus visual bagi siapa pun yang sabar menunggu momen.
Perjalanan menuju lokasi pun menghadirkan pengalaman tersendiri. Jalan menanjak dan berliku di antara kebun kentang, kol, dan carica, menghadiahi panorama Gunung Sindoro dan Sumbing dari kejauhan.
Keindahan Curug Sikarim bukan sekadar pada tingginya. Suasana alam sekitarnya masih sangat asri. Hutan pakis yang rimbun, udara sejuk khas pegunungan, dan gemuruh air yang konstan menghadirkan sensasi menenangkan.
Tak sedikit wisatawan memilih duduk di bebatuan besar di depan curug, hanya untuk meresapi suara alam.
Akses dan Fasilitas
Curug Sikarim berlokasi di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Dari pusat kota Wonosobo, perjalanan darat membutuhkan waktu sekitar 1–2 jam.
Rute umum melewati Kecamatan Garung, lalu masuk ke jalur desa Mlandi. Jalan sudah beraspal hingga area parkir, meski medan menanjak curam dan berkabut menuntut kehati-hatian. Dari parkir, pengunjung melanjutkan dengan berjalan kaki beberapa ratus meter ke lokasi.
Tiket masuk Curug Sikarim relatif terjangkau, berkisar Rp10.000–Rp15.000 per orang, ditambah biaya parkir Rp3.000–Rp5.000. Fasilitas dasar cukup memadai: area parkir luas, musala, toilet, warung makan sederhana, hingga gazebo untuk beristirahat.
Mitos dan Jejak Sejarah
Curug Sikarim juga menyimpan cerita lokal. Nama “Sikarim” oleh sebagian warga dihubungkan dengan sosok Mbah Kyai Abdul Karim, tokoh penyebar Islam yang dimakamkan di sekitar curug. Makamnya hingga kini masih diziarahi. Ada pula cerita rakyat yang mengaitkan kawasan ini sebagai tempat persembunyian warga di masa lampau, saat terjadi pergolakan melawan penjajah.
Jalur menuju Sikarim bahkan dipercaya sebagai bagian dari jalur kuno yang pernah dilewati peziarah sejak era Mataram Kuno. Sejarah, mitos, dan keindahan alam berkelindan, menjadikan pengalaman berkunjung lebih dari sekadar wisata alam biasa.
Menyatu dengan Alam
Bagi banyak wisatawan, Curug Sikarim adalah ruang kontemplasi. Duduk di antara gemuruh air dan kabut pegunungan memberi kesan bahwa manusia hanyalah tamu kecil di hadapan alam raya. “Perjalanan ke sini memang menantang, tapi rasa lelah langsung hilang begitu melihat curug di depan mata,” kata seorang pengunjung asal Yogyakarta.
Curug Sikarim adalah potret keindahan Dieng yang belum sepenuhnya tersentuh modernisasi. Sebuah surga tersembunyi yang menghadiahkan ketenangan, ketakjuban, dan cerita untuk dibawa pulang. @jjpamungkas







