IndonesiaBuzz: Klaten, 14 Agustus 2025 – Kraton Surakarta Hadiningrat melanjutkan rangkaian tradisi Bethak (Adang) Tahun Dal 1959 dengan menggelar prosesi Wilujengan untuk mengawali pembuatan kekeb (tutup) di Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Rabu (13/8/25) malam. Kegiatan ini menjadi kelanjutan setelah sebelumnya Kraton melaksanakan prosesi damel pawon (pembuatan dapur) gondorasan di kompleks Kraton Surakarta.
Rombongan Kraton Surakarta dipimpin Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Alit, didampingi Sentono Dalem dan Abdi Dalem. Mereka hadir untuk memulai prosesi Wilujengan sebagai penanda dimulainya pembuatan kekeb, salah satu perlengkapan penting dalam prosesi Adang.
Prosesi diawali penyerahan mandat dari utusan kraton kepada pembuat kekeb sebagai simbol kepercayaan untuk melanjutkan pengerjaan. Perlengkapan ini dibuat dari uborampe yang diambil dari berbagai lokasi bernilai sejarah leluhur Mataram, sehingga memiliki makna sakral dalam tradisi Bethak.
Doa bersama yang dipimpin ulama Kraton Surakarta menjadi inti Wilujengan, memohon keselamatan dan kelancaran seluruh tahapan pembuatan kekeb. Suasana khidmat menyelimuti acara, dengan hidangan tradisional tersaji sebagai bagian dari ritual. Setelah doa, para hadirin menikmati makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
GKR Alit menegaskan Wilujengan digelar demi kelancaran seluruh rangkaian hajad dalem Bethak Tahun Dal 1959.
“Untuk mengawali pembuatan kekeb untuk kebutuhan hajad dalem Bethak (Adang) Tahun Dal 1959, semoga semua yang bekerja diberikan keselamatan, tidak ada halangan, dan semuanya terlaksana dengan baik serta lancar,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan Harapan kepada para pekerja yang mengerjakan kekeb diberikan kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan proses pembuatan.
“Semoga para pekerja yang melaksanakan pengerjaan kekeb (tutup) diberikan kesehatan, keselamatan, dan semua dapat berjalan dengan lancar tanpa halangan suatu apa pun,” ujarnya.
Tradisi Bethak digelar setiap delapan tahun sekali dan menjadi salah satu warisan budaya yang terus dilestarikan Kraton Surakarta. Prosesi ini tidak hanya sebagai penghormatan kepada leluhur, tetapi juga wujud pelestarian adat Jawa yang sarat nilai sejarah dan makna spiritual. (Dimas.P/Koresponden Jogja)







