IndonesiaBuzz: Historia – Puluhan patung bergaya Yunani klasik terlihat mencolok di antara arsitektur khas Jawa di kompleks Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Baluwarti, Solo. Patung-patung berwarna putih yang menghiasi area Sasana Handrawina dan Sasana Sewaka itu tampil kontras dengan lingkungan sekitarnya yang didominasi bentuk pendopo dan joglo berornamen Jawa.
Berbentuk malaikat dan dewi mitologi Yunani, patung-patung tersebut tampil dengan berbagai pose, ada yang berdiri maupun duduk, serta membawa atribut seperti bunga, buku, atau sayap. Gaya tiap patung tampak berbeda, menunjukkan keragaman desain yang menonjol. Sosok perempuan mendominasi perwujudan patung yang dibuat dari batu pualam berkualitas tinggi ini.
Keberadaan patung-patung tersebut di kawasan karaton bukan tanpa alasan. Patung-patung itu merupakan hadiah dari kerajaan Swedia dan Italia kepada Sinuhun Pakubuwono (PB) X yang memerintah pada 1893 hingga 1939 Masehi. Hadiah itu merupakan simbol hubungan diplomatik antara Karaton Surakarta dengan dua kerajaan Eropa tersebut.
Kedatangan patung tersebut juga beriringan dengan proyek besar pembaruan arsitektur Karaton Solo di era PB X, termasuk penggantian lantai menggunakan keramik dan marmer dari Italia. Meski saat ini lantai marmer asli telah diganti dengan marmer dari Tulungagung setelah insiden kebakaran tahun 1985, patung-patung khas Eropa itu masih bertahan sebagai saksi bisu masa keemasan hubungan luar negeri Karaton Surakarta Hadiningrat.
Selain di sekitar Sasana Handrawina dan Sasana Sewaka, patung-patung itu dulunya juga ditempatkan di berbagai lokasi lain di lingkungan keraton, seperti Kori Talang Paten dan Ndalem Langen Katong. Namun tidak semua dapat diakses publik karena berada di area privat. Jumlahnya diperkirakan pernah mencapai 50 buah, meski beberapa di antaranya kemungkinan telah rusak atau hilang.
Keberadaan patung-patung ini menjadi simbol penting posisi Keraton Surakarta dalam kancah diplomasi internasional pada masanya. Selain mengukuhkan status sebagai kerajaan yang menjalin hubungan dengan kekuatan luar, hal ini juga memperlihatkan bagaimana Keraton Surakarta mempertahankan identitas dan otonominya meski berada di bawah bayang-bayang Hindia-Belanda. Sebanyak 29 penghargaan dari kerajaan dan negara asing tercatat pernah diterima pada masa pemerintahan PB X, menunjukkan luasnya jaringan diplomatik yang pernah dijalin oleh Karaton Kasunanan Surakarta.







