Indonesiabuzz.com : Surakarta, 16 September 2024 – Atas perintah resmi dari SISKS Pakoe Boewono XIII, Karaton Surakarta Hadiningrat melaksanakan gelaran acara HajadDalem Pareden Garebeg Mulud (Kirab Gunungan Sekaten) tahun JE 1958 pada hari ini, Senin (16/9/2024), siang.
Dalam acara perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi tradisi di Karaton Surakarta selama ratusan tahun ini, sebanyak dua pasang Gunungan (2 gunungan laki-laki dan 2 gunungan perempuan) ludes diperebutkan oleh masyarakat yang sengaja datang untuk menyaksikan Kirab Gunungan Sekaten Karaton Surakarta yang melegenda tersebut.
Dari informasi yang dihimpun oleh redaksi, gelaran acara Garebeg Mulud tersebut secara utuh dibiayai oleh SISKS Pakoe Boewono XIII beserta Permaisuri Dalem Karaton Surakarta GKR Pakoe Boewono.
Kirab diawali dengan dibariskannya Prajurit Karaton Surakarta berikut 2 pasang gunungan di dalam Plataran Karaton Surakarta. Setelah mendapatkan ijin dari SISKS Pakoe Boewono XIII, maka seluruh prajurit, 2 pasang gunungan, penabuh gamelan, berikut seluruh Abdi Dalem maupun Sentono Dalem yang hadir dalam acara tersebut pun mulai berjalan menuju pintu Kori Kamandungan.
Keluar dari pintu Kori Kamandungan, rombongan kirab kemudian terus berjalan menuju Masjid Ageng Karaton Surakarta. Sesampainya di Masjid Ageng, kemudian KRA. Rizki Baruna Ajidiningrat S.Sos., selaku pengemban perintah dari SISKS Pakoe Boewono XIII kemudian memerintahkan kepada Penghulu Tafsir Anom Masjid Ageng Karaton Surakarta KRAT. Muhtarom untuk mulai memimpin doa.
Belum usai doa, masyarakat yang telah menunggu di Masjid Ageng langsung memperebutkan 1 Gunungan Perempuan dan 1 Gunungan Laki-laki hingga habis tak bersisa. Sedangkan sepasang gunungan yang lain diarak kembali menuju Kamandungan untuk diperebutkan juga oleh masyarakat yang telah menunggu di lokasi.

Ditemui usai keberangkatan Kirab dari dalam kawasan Karaton Surakarta, Pengageng Parentah Karaton Surakarta KGPH Adipati Drs. Dipokusumo M.Si. mengungkapkan, gunungan yang dikirabkan berisi hasil bumi dan hasil karya manusia sebagai simbol rasa syukur kita kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmatnya.
“Pareden (gunungan) yang dikirabkan berisi hasil bumi dan olahan makanan hasil karya manusia sebagai simbol rasa syukur kita kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmatnya kepada kita yang kemudian dikemas dalam wujud Pareden ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dirinya juga menjelaskan bahwa gunungan laki-laki dan perempuan tersebut merupakan simbol dan makna kesuburan. Dan bahwa acara ini merupakan perintah dari SISKS Pakoe Boewono XIII.
“Adanya Pareden (gunungan) laki-laki dan perempuan ini merupakan simbol makna kesuburan. Dan acara ini dilangsungkan atas perintah resmi dari Sinuhun Pakoe Boewono XIII,” pungkasnya.
Setelah sepasang gunungan yang kembali dari Masjid Ageng telah habis diperebutkan oleh masyarakat di Kamandungan, Sinuhun Pakoe Boewono XIII dengan didampingi oleh Permaisuri Dalem GKR Pakoe Boewono, Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, GKR Timoer Rumbai, Gusti Devi, Gusti Ratih, dan GRAy. Putri Purnaningrum, keluar lewat pintu Kori Kamandungan dan membagikan udhik udhik atau uang logam maupun kertas kepada ratusan massa yang telah berkumpul di Kamandungan, Karaton Surakarta Hadiningrat. (Puthut-Red)







