Indonesiabuzz.com: Budaya – Tradisi Sekaten di Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali digelar dengan rangkaian ritual budaya yang sarat akan nilai-nilai sejarah dan keagamaan. Salah satu ritual penting dalam perayaan Sekaten adalah tabuh gamelan, yang akan berlangsung selama tujuh hari enam malam, mulai tanggal 5 hingga 12 Rabiul Awal menurut kalender Jawa.
Ritual ini melibatkan dua gamelan pusaka, yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, yang dibawa dari Kraton Surakarta menuju Bangsal Pradangga atau Pagongan KagunganDalem Masjid Ageng Kraton Surakarta. Di tempat ini, kedua gamelan tersebut akan dimainkan tanpa henti selama tujuh hari enam malam sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Asal Usul Gamelan Pusaka
Menurut penelitian Kundharu Saddhono dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, gamelan Kyai Guntur Sari merupakan peninggalan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram, sementara gamelan Kyai Guntur Madu adalah warisan dari Paku Buwono IV. Kedua gamelan ini menjadi simbol penting dalam tradisi Sekaten, yang berkaitan erat dengan penyebaran agama Islam di Jawa pada masa Wali Sanga.
Simbol Syiar Islam
Pada awalnya, gamelan digunakan oleh para Wali Sanga sebagai sarana dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam. Gamelan, sebagai hiburan masyarakat kala itu, dijadikan alat untuk menarik minat penduduk lokal. Agar dapat menikmati pertunjukan gamelan, masyarakat diwajibkan mengucapkan syahadatain atau dua kalimat syahadat. Nama “Sekaten” sendiri berasal dari istilah syahadatain ini.

Ritual Tabuh Gamelan
Ritual tabuh gamelan dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal, biasanya setelah waktu Asar, dengan perintah resmi dari pihak Kraton Surakarta. Gamelan Kyai Guntur Madu ditempatkan di pagongan selatan dan Kyai Guntur Sari di pagongan utara halaman Masjid Agung Solo. Banyak masyarakat percaya bahwa mendengarkan gending Sekaten sambil menguyah kinang (sirih) akan memberikan panjang umur dan kesehatan.
Ritual ini mencapai puncaknya pada 12 Rabiul Awal, yang merupakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada hari tersebut, Kraton Surakarta juga mengadakan prosesi Grebeg Maulud, di mana dua gunungan, yaitu Gunungan Jaler dan Gunungan Estri, diarak dari kompleks Kraton menuju Masjid Ageng. Setelah didoakan, gunungan tersebut diperebutkan oleh masyarakat yang telah menunggu, dengan harapan mendapatkan berkah.
Pelestarian Warisan Budaya
Tradisi Sekaten di Kraton Surakarta menjadi salah satu bentuk akulturasi budaya yang memperlihatkan bagaimana Islam menyatu dengan budaya Jawa.
“Tradisi ini berawal dari strategi para Wali Sanga yang menggunakan pendekatan budaya untuk mempercepat penyebaran Islam di Jawa,” terang salah seorang kerabat Kraton Surakarta, KP. Hari Andri Winarso Wartonagoro. “Jadi penyebaran Islam menggunakan berbagai jalur, yakni politik, sosial, dan budaya,” imbuhnya.
Tradisi ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga melambangkan kekayaan budaya Jawa yang menyatukan unsur spiritualitas dan seni, menjadikannya peristiwa penting bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. Sekaten menjadi bukti bagaimana nilai-nilai budaya dan agama bisa saling melengkapi dan memperkaya kehidupan sosial masyarakat.
Dengan rangkaian ritual seperti tabuh gamelan dan Grebeg Maulud, tradisi Sekaten di Kraton Surakarta tetap hidup dan lestari, membawa pesan damai dan keberkahan bagi masyarakat yang merayakannya setiap tahun. @indonesiabuzz







