IndonesiaBuzz: Historia – Pada hari Rabu Pahing 17 Sura 1670 menurut penanggalan Jawa, dilakukan Boyong Kedaton dari Kraton Kartasura ke Kraton Surakarta. Peristiwa ini diperingati dengan sesengkalan “Kambuling Puja Asyarsa hing Ratu,” yang menandai perpindahan pusat pemerintahan. Kraton Mataram yang baru ini secara resmi dinamakan “Kraton Surakarta Hadiningrat” dan mulai berfungsi pada 17 Februari 1745 Masehi, atau 17 Sura 1670 dalam penanggalan Jawa. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari berdirinya Kraton Surakarta Hadiningrat.
Perpindahan ini terjadi setelah pemberontakan di Kraton Kartasura yang membuat Susuhunan Pakubuwana II dan keluarga besar kerajaan mengungsi ke Kadipaten Ponorogo pada Sabtu Wage 27 Rabiulakir Alip 1667. Di Ponorogo, Susuhunan Pakubuwana II dikenal sebagai Kanjeng Panembahan Brawijaya dan bertahta di Dusun Kentheng Ponorogo. Setelah keadaan kerajaan kembali kondusif, Susuhunan kembali ke Kraton Kartasura pada hari Rabu Legi 22 Syawal Alip 1667. Namun, melihat kondisi istana yang hancur, Susuhunan memerintahkan Raden Tumenggung Mangkuyudo dan Mas Ngabehi Honggowongso untuk mencari lokasi baru untuk mendirikan istana.
Setelah pencarian, tanah di dusun Sala dipilih sebagai lokasi baru, sekitar 10 km timur Kartasura. Susuhunan Pakubuwana II menyetujui usulan ini, dan Mas Ngabehi Honggowongso diberi gelar Tumenggung Arung Binang I, Bupati Sewu Kraton Kartasura, sedangkan Raden Tumenggung Mangkuyuda diberi gelar Raden Adipati Sinduredja, Patih Kraton Surakarta.
Susuhunan Pakubuwana II mengutus Panembahan Wijil, Kyai Ageng Khalifah Buyut, Mas Pangulu Fakih Ibrahim, dan RT Yosodipuro untuk memastikan kelayakan tempat tersebut. Tanah itu kemudian dibeli dari Ki Gede Sala seharga 10.000 ringgit. Pembangunan istana baru pun dimulai di tanah tersebut.
Setelah kembali dari Ponorogo pada 1742, Sunan Pakubuwana II melihat kehancuran Kraton Kartasura akibat pemberontakan Cina. Kondisi ini mendorongnya untuk membangun istana baru. Setelah berkonsultasi dengan para punggawa, diputuskan bahwa lokasi istana baru berada di sebelah timur istana lama, dekat Bengawan Sala. Lokasi ini dipilih untuk menghindari pengaruh pemberontak dan menghapus kenangan buruk kehancuran Kraton Kartasura.
Para utusan yang terdiri dari Mayor Hohendorp, Adipati Pringgalaya, Adipati Sindurejo, Kyai T. Hanggawangsa, RT Mangkuyuda, dan RT Puspanegara memilih tiga tempat untuk pembangunan istana baru: Desa Kadipala, Desa Sala, dan Desa Sana Sewu. Setelah musyawarah, Desa Sala dipilih sebagai lokasi terbaik.
Setelah Sunan menerima laporan ini, ia memerintahkan Kyai Tohjaya, Kyai Yasadipura I, dan RT Padmagara untuk mempersiapkan pembangunan istana. Mereka menemukan sumber Tirta Amerta Kamandanu di Desa Sala, yang meneguhkan keputusan Sunan untuk mendirikan istana di sana.
Pembangunan istana baru dilakukan dengan bantuan seluruh Abdi Dalem dan Sentana Dalem. Mereka memasukkan balok kayu ke dalam rawa di Desa Sala untuk menutup mata air, namun usaha ini gagal karena air terus mengalir deras. Setelah bertapa selama tujuh hari tujuh malam, Kyai Yasadipura mendapat ilham untuk menggunakan Gong Kyai Sekar Dlima, daun lumbu, kepala ronggeng, dan cendol mata orang untuk menutup sumber air. Ilham ini diterima pada hari Selasa Kliwon 28 Sapar, Jimawal 1669 (1743 Masehi).
Dengan keputusan ini, pembangunan Kraton Surakarta Hadiningrat dimulai, menandai berdirinya pusat pemerintahan Mataram yang baru dan membawa era baru dalam sejarah kerajaan Jawa.







