Indonesiabuzz.com : Surabaya, 17 Februari 2024 – Meskipun Pemkot Surabaya telah menyiapkan tenaga kesehatan (nakes) hingga puskesmas yang berjaga 24 jam selama pemungutan suara berlangsung, sayangnya Dinas Kesehatan (Dinkes) masih saja menemukan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang jatuh sakit. Bahkan, salah satunya meninggal dunia setelah bertugas.
Kepala Dinkes Kota Surabaya Nanik Sukristina mengatakan bahwa jumlah petugas KPPS yang sakit terus meningkat.
Saat hari pemungutan suara, totalnya sudah mencapai sekitar 43 petugas yang tumbang. Dan sekarang, jumlahnya menjadi 137.
“Semuanya sudah mendapatkan penanganan medis di beberapa puskesmas di Surabaya,” ujarnya, Jumat (16/2/2024).
Menurut Nanik, keluhan yang dialami anggota KPPS itu beragam. Antara lain seperti kepala pusing, mual, hipertensi, asam lambung naik, hingga demam.
Ia juga mengatakan bahwa ada 63 puskesmas di Kota Surabaya yang disiagakan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para anggota KPPS.
“Puskesmas Ketabang paling banyak menangani anggota KPPS yang sakit. Puskesmas Kenjeran juga banyak,” lanjutnya.
Nanik berani memastikan bahwa seluruh petugas KPPS telah mendapatkan fasilitas sesuai tata laksana dinkes. Semuanya ditangani sesuai gejala dan keluhan yang dialami. Bahkan, salah satunya harus mendapatkan perawatan intensif ke rumah sakit.
“Satu orang dirujuk ke rumah sakit,” ucapnya.
Sementara itu, ada kabar duka yang mengharukan pesta demokrasi di Kota Surabaya. Pasalnya, Ketua KPPS Tempat Pemungutan Suara (TPS) 42, Kelurahan Ngagel Rejo, Kecamatan Wonokromo, Joko Budiono (52), telah meninggal dunia.
Disebutkan, Joko sudah tak sadarkan diri sejak penghitungan suara pada Rabu (14/2/2024) lalu, dan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 08.15, Jumat (16/2/2024).
“Kronologinya saat mau penghitungan suara, sekitar pukul 15.00 WIB, beliau pingsan di tempat (TPS),” kata Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Wonokromo Achmad Muzzaky.
Achmad menjelaskan, anggota KPPS membawa korban ke RSUD dr. Soetomo, agar segera mendapatkan penanganan. Namun hingga Kamis (15/2/2024), korban belum sadarkan diri.
“Setelah pingsan langsung dilarikan ke RSUD dr Soetomo, masuk ke IRD. Sampai malam saya info ke Pak RW, juga masih belum sadar sampai pingsan,” terangnya.
Achmad mengungkapkan, Joko juga belum sadarkan diri hingga keesokan harinya. Lalu pada Jumat (16/2/2024) pagi kemarin, keluarga mendapatkan kabar dari dokter bahwa korban telah menghembuskan nafas terakhir.
“Karena kecapaian pasca penghitungan suara. Memang ada penyakit komorbid bawaannya, gula darahnya naik,” pungkasnya. (Puthut-Red)







