IndonesiaBuzz: Surabaya, 14 November 2025 – Di antara deretan kuliner khas Kota Pahlawan, Warung 17 berdiri sebagai salah satu ikon nasi penyetan yang tak lekang oleh waktu. Berawal dari tenda sederhana di dekat SMP 17 pada tahun 1997, warung ini kini menjelma menjadi destinasi kuliner legendaris di kawasan Tenggilis Mejoyo.
Nama Warung 17 lahir dari lokasi awal sang pemilik berjualan. Dengan peralatan seadanya, mereka merintis usaha kecil yang mengandalkan cita rasa otentik sebagai modal utama. Konsistensi itu membuahkan hasil: warung berkembang pesat dan kini menempati bangunan permanen di Blok N-O Jalan Tenggilis Mejoyo Utara I Nomor 17, lengkap dengan fasilitas nyaman termasuk mushola untuk para pelanggan.
Daya tarik Warung 17 terletak pada ragam lauk penyetan yang mencapai puluhan pilihan. Ikan air tawar, ayam, bebek, hingga ikan asap tersaji segar setiap hari. Namun dua menu unggulan yang menjadi magnet utama adalah Ayam Bakar dan Patin Bakar Bumbu Madu. Perpaduan rasa gurih-manis, bumbu meresap, serta aroma bakaran yang khas menjadikan keduanya selalu ludes diburu pengunjung.
Setiap porsi penyetan diracik dengan gaya autentik Jawa Timur. Nasi panas mengepul, sambal terasi beraroma kuat, lauk pilihan, tahu, tempe, hingga terong goreng tersaji lengkap bersama lalapan segar. Karakter sambalnya yang pedas menyengat namun tetap seimbang menjadikannya elemen yang paling memanjakan lidah para pecinta penyetan.
Buka setiap hari pukul 09.00 hingga pukul 23.00, Warung 17 selalu ramai pengunjung dari berbagai kalangan. Meski telah berkembang besar, standar kebersihan, pelayanan, dan kualitas rasa tetap menjadi prinsip utama yang terus dipertahankan.
Keberhasilan Warung 17 menjadi bukti bahwa konsistensi rasa adalah kunci keberlanjutan sebuah kuliner. Lebih dari dua dekade, warung ini bukan hanya menjual makanan, tetapi merawat kenangan dan selera generasi demi generasi. Sebuah legenda kuliner Surabaya yang rasanya tidak boleh dilewatkan. (Sabrina Fidhi R/Koresponden Surabaya)







