IndonesiaBuzz: Karanganyar, 27 September 2025 – Di Desa Lalung, Kecamatan Karanganyar, Waduk Lalung membentang tenang, memantulkan langit sore yang jingga. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan jejak kampung tua yang kini hanya ada dalam ingatan: Kampung Kembangan.
Sarwanto, tokoh masyarakat setempat, mengenang kampung yang hilang itu. “Dulu ada pasar, sawah, jalan, sampai makam. Sekarang semuanya tertutup air waduk,” katanya, Jumat (26/9/25). Warga Kampung Kembangan direlokasi ke berbagai tempat: barat dan timur waduk, kawasan Taman Pancasila, hingga Pondokrejo. “Nyebar ke mana-mana. Ada yang ke timur waduk, ke barat, dan sampai ke kota Karanganyar,” imbuhnya.
Jejak kehidupan kampung itu kadang muncul ketika musim kemarau panjang. “Kalau pas kering banget, makamnya sempat kelihatan, tapi hanya satu-dua,” ujar Sarwanto. Fenomena ini mirip dengan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, meski jejak Kembangan lebih samar akibat sedimen yang menumpuk.
Berdasarkan catatan sejarah, Waduk Lalung dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1940 dan rampung 1942, dengan tujuan utama irigasi pertanian. Air waduk berasal dari Sungai Jetis yang mengalir dari barat, namun ironisnya warga Desa Lalung sendiri jarang mendapat manfaat langsung. Aliran air lebih banyak digunakan untuk wilayah Jaten dan Mojolaban, Sukoharjo. “Warga Lalung harus pakai pompa diesel jika ingin mengambil air,” kata Supardiyanto, warga setempat.
Meski begitu, seiring waktu, Waduk Lalung bertransformasi menjadi ruang publik dan objek wisata alternatif. Sunset dari tepi waduk menjadi magnet pengunjung, terutama pada akhir pekan. Sedimen lumpur dimanfaatkan untuk membuat batu bata, sementara area yang surut digunakan untuk menanam padi dan menggembala ternak. Aktivitas memancing juga ramai dilakukan, dengan ikan seperti nila, mujair, gabus, dan wader kecil.
“Sekarang kalau sore ramai sekali. Banyak yang datang untuk mancing atau melihat matahari terbenam. Suasananya seperti di pantai,” kata Supardiyanto.
Generasi muda mungkin tidak banyak yang mengingat Kampung Kembangan, tapi bagi warga lama, cerita itu tetap hidup. Di balik permukaan air yang tenang, ada sejarah dan identitas yang tak bisa dipisahkan dari Desa Lalung. “Waduk ini memang bermanfaat, tapi masyarakat perlu tahu bahwa dulu pernah ada kehidupan di sini,” tutupnya.(red)







