IndonesiaBuzz: kesehatan — “Semua akan baik-baik saja,” “Setidaknya kamu masih beruntung,” atau “Jangan sedih terus, dong.” Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar menenangkan. Tapi jika diucapkan di saat yang salah, mereka justru bisa terasa menyakitkan. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity—ketika seseorang dipaksa untuk terus merasa positif, bahkan saat keadaan sebenarnya sedang berat dan melelahkan.
Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity adalah penyangkalan atau penekanan emosi negatif secara terus-menerus, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Meskipun niatnya baik, dorongan untuk “selalu bahagia” bisa membuat seseorang merasa bersalah hanya karena merasa sedih, kecewa, atau marah—padahal semua emosi itu adalah bagian wajar dari pengalaman manusia.
Menurut dr. Marsha Tami, psikolog klinis dari Jakarta, toxic positivity sering muncul dari ketidaknyamanan dalam menghadapi perasaan sulit. “Kita sering kali tidak tahu bagaimana merespons kesedihan orang lain, jadi kita refleks memberikan ‘semangat palsu’. Tapi itu bukan solusi, itu bentuk penghindaran,” jelasnya.
Dipaksa Tersenyum di Tengah Kelelahan
Di era media sosial, budaya “selalu tampak bahagia” makin diperkuat. Banyak orang merasa harus terlihat positif, produktif, dan penuh syukur di depan kamera—meskipun sebenarnya sedang berjuang secara emosional. Mereka takut dianggap lemah atau negatif jika menunjukkan sisi rapuh.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga di kantor, sekolah, bahkan keluarga. Alih-alih mendapat ruang untuk mengungkapkan perasaan, banyak orang justru dipaksa memendamnya.
Dampak Psikologis: Emosi yang Dipendam Tidak Hilang
Menekan perasaan negatif secara terus-menerus bisa berdampak serius. Alih-alih hilang, emosi yang dipendam justru akan menumpuk dan meledak dalam bentuk stres, gangguan kecemasan, atau bahkan depresi.
Menurut jurnal dari American Psychological Association (APA), validasi emosi merupakan langkah penting dalam pemulihan psikologis. Artinya, mengakui bahwa kita sedang sedih, kecewa, atau lelah adalah langkah sehat—bukan kelemahan.
“Merasa sedih tidak membuatmu lemah. Justru itu tanda kamu manusia yang utuh,” kata dr. Marsha.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Untuk menghindari jebakan toxic positivity, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Akui perasaanmu sendiri tanpa menghakimi.
- Berikan ruang bagi orang lain untuk bercerita, tanpa langsung memberikan nasihat.
- Gunakan kalimat empatik seperti, “Aku bisa pahami kenapa kamu merasa begitu,” bukan “Kamu harus tetap kuat.”
- Ingat bahwa bahagia bukan satu-satunya emosi yang valid.
Sebagai masyarakat, kita perlu membangun budaya yang lebih empatik—di mana kesedihan tidak dianggap tabu, dan menangis bukan tanda kelemahan, melainkan proses yang sehat.







