IndonesiaBuzz: Wonogiri: 14 Agustus 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong penyediaan hunian yang layak, aman, dan nyaman bagi masyarakat. Salah satu langkah yang mulai dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi bata interlocking dalam pembangunan rumah bantuan.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimun menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan kerja sekaligus meresmikan bantuan pembangunan rumah menggunakan teknologi bata interlocking di Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Kamis (13/8/26).
Kedatangan Taj Yasin disambut Wakil Bupati Wonogiri Imron Rizkyarno bersama jajaran Forkopimda dan sejumlah pejabat terkait.
Dalam kesempatan tersebut, Taj Yasin menyoroti masih tingginya kebutuhan hunian layak di Kabupaten Wonogiri. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, backlog perumahan di daerah tersebut masih mencapai 14.323 unit.
“Di Wonogiri ini juga masih tinggi datanya, backlog-nya. Masih ada 14.323 unit di Kabupaten Wonogiri ini,” kata Taj Yasin.
Menurutnya, persoalan hunian tidak semata berkaitan dengan ketersediaan bangunan fisik. Rumah yang layak merupakan salah satu fondasi penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, Pemprov Jateng pada 2026 terus mendorong penanganan backlog melalui pembangunan rumah baru maupun peningkatan kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Tahun ini, pemerintah provinsi mengalokasikan bantuan untuk pembangunan 120 unit rumah baru dan peningkatan kualitas 5.111 unit RTLH yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Khusus Kabupaten Wonogiri, sebanyak 20 unit rumah baru mendapat dukungan bantuan dari Pemprov Jateng. Salah satunya berada di Desa Jaten dan dibangun dengan memanfaatkan teknologi bata interlocking.
Taj Yasin mengapresiasi penggunaan teknologi bata interlocking dalam pembangunan rumah bantuan tersebut. Menurutnya, metode ini berpotensi membuat proses pembangunan lebih efisien dari sisi waktu maupun biaya.
Efisiensi menjadi penting agar anggaran bantuan pemerintah dapat dimanfaatkan secara optimal dan tidak justru menambah beban masyarakat penerima.
“Pengennya kita menyejahterakan, eh malah membebani. Sehingga ini menjadi contoh buat kita bersama bahwa ini kita berani,” ujarnya.
Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada pembangunan rumah baru. Teknologi bata interlocking juga dinilai berpotensi diterapkan dalam program rehabilitasi RTLH, dengan terlebih dahulu melalui kajian dan penyesuaian teknis.
Bentuk bata yang modular memungkinkan penggunaannya disesuaikan dengan bagian rumah yang membutuhkan perbaikan.
“Kalau nanti mungkin RTLH-nya yang direhab itu di sisi belakang, ya sudah sisi belakangnya itu kita tinggal hitung saja perseginya berapa. Lalu kita kunci dengan lantai cor,” jelas Taj Yasin.
Meski memiliki potensi efisiensi, Taj Yasin menekankan bahwa penerapan teknologi tersebut secara lebih luas tetap membutuhkan kajian. Pemerintah perlu memastikan metode pembangunan sesuai dengan kondisi, kebutuhan, serta karakteristik masing-masing daerah.
Dengan kajian yang matang, inovasi teknologi diharapkan dapat membantu pemerintah mempercepat penyediaan hunian layak tanpa mengesampingkan aspek kualitas, keamanan, dan kenyamanan penerima manfaat.
Wakil Bupati Wonogiri Imron Rizkyarno menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan dukungan Pemprov Jateng terhadap pembangunan hunian masyarakat di Wonogiri.
Menurutnya, kolaborasi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten diperlukan untuk memperluas jangkauan program penyediaan hunian layak, khususnya bagi masyarakat yang masih menempati rumah dengan kondisi tidak layak.
“Kami menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bapak Wakil Gubernur di Wonogiri. Kami berharap program pembangunan rumah dengan bata interlocking ini dapat terus disinergikan dengan program RTLH di Wonogiri, sehingga semakin banyak masyarakat yang mendapatkan hunian yang layak, aman, dan nyaman,” ujar Imron.
Usai meresmikan rumah bantuan di Desa Jaten, Taj Yasin melanjutkan kunjungan kerja ke Desa Minggarharjo, Kecamatan Eromoko.
Rangkaian kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sinergi pembangunan sekaligus memastikan program yang dijalankan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Sebab, bagi keluarga penerima bantuan, rumah bukan sekadar bangunan. Hunian yang layak berarti tempat berlindung, ruang untuk membangun kehidupan keluarga, serta pijakan untuk menata masa depan dengan lebih aman dan sejahtera. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).







