IndonesiaBuzz: Magetan, 5 Oktober 2025 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menanggapi gelombang protes dari keluarga korban terkait lambatnya proses pencarian santri yang tertimbun reruntuhan musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo. Khofifah meminta masyarakat memahami bahwa evakuasi tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.
“Ini sudah dikerjakan tim yang sangat profesional. Tetapi perlu diketahui, tidak bisa secepat yang diharapkan karena ini bukan mengambil bongkahan,” ujar Khofifah usai berziarah ke makam Gubernur Suryo di Magetan, Minggu (5/10/25).
Khofifah menjelaskan, tim SAR yang bekerja di lokasi terdiri dari Basarnas, BNPB, hingga akademisi dari sejumlah kampus ternama. Menurutnya, sejak awal Pemprov Jatim sudah menyiapkan dukungan penuh berupa alat berat, lampu penerangan berkapasitas tinggi, dan logistik bagi seluruh petugas di lapangan.
“Hingga hari ketiga baru digunakan alat berat karena penggunaannya harus hati-hati agar tidak membahayakan korban yang mungkin masih tertimbun di bawah reruntuhan,” tegasnya.
Mantan Menteri Sosial itu juga memastikan bahwa seluruh biaya perawatan korban luka di RSUD Sidoarjo ditanggung penuh oleh Pemprov Jawa Timur.
“Sekali lagi, ini bukan sekadar mengambil bongkahan. Yang dilakukan adalah membuka akses agar aman dan tidak menimbulkan risiko baru,” katanya menegaskan.
Khofifah menambahkan, proses identifikasi jenazah korban masih terus dilakukan oleh tim DVI Postmortem Polda Jawa Timur bersama Mabes Polri. Hingga Sabtu malam, tiga jenazah sudah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga masing-masing.
“Saya termasuk yang ikut melepas penyerahan tiga jenazah kepada wali santri,” pungkasnya. (Agus Pujiono/Koresponden Magetan)







