oleh: Eko Sigit Pujianto
Rakyat bersuara, jalan-jalan jadi saksi,
tapi meja-meja rapat tetap diam,
seakan pena dan suara mereka lebih tajam daripada hati yang memimpin.
Negeri ini belajar dari protes,
tapi sistemnya belajar dari diam,
mengulang naskah yang sama
janji, janji, lalu janji.
Apakah demokrasi hanya kata di buku?
Apakah keadilan hanya foto di poster?
Sementara rakyat menumpuk di trotoar,
tuntut satu hal, didengar, bukan ditundukkan.
Bangsa ini punya peta,
tapi hilang arah dalam labirin birokrasi.
Sementara suara rakyat,
terus-menerus menukik ke jalan,
dan bertanya
Siapa yang benar-benar memimpin,
dan siapa yang hanya menunggu tepuk tangan kursi empuknya?@sigit







