IndonesiaBuzz: Tokoh – Dalam sejarah Indonesia, nama Soesalit Djojoadhiningrat mungkin tidak sepopuler ibunya, Raden Ajeng Kartini. Namun, sebagai satu-satunya putra dari tokoh emansipasi wanita tersebut, kisah hidup Soesalit menawarkan perjalanan mengharukan sekaligus tragis, yang sarat dengan konflik batin dan pelayanan kepada negeri.
Sejak lahir, perjalanan hidup Soesalit sudah dimulai dengan kehilangan. Empat hari setelah ia dilahirkan, ibunya yang tercinta, R.A. Kartini, menghembuskan nafas terakhirnya. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Djojodiningrat, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Rembang, menjadi satu-satunya sosok orang tua baginya. Namun, kehidupan Soesalit kembali diwarnai duka ketika pada usia delapan tahun, ia harus kehilangan ayahnya pula.
Beruntung, saudara tiri tertuanya, Abdulkarnen Djojodhinigrat, mengulurkan tangan kasih sayang. Abdulkarnen, yang kelak menggantikan ayah mereka sebagai Bupati Rembang, memastikan pendidikan dan kehidupan Soesalit tetap terjamin. Soesalit menjalani pendidikan di Europe Lager School (ELS), kemudian melanjutkan ke Hogare Burger School (HBS) di Semarang, dan Recht Hoge School (RHS) di Jakarta, mengikuti jejak serupa dengan ibunya.
Sebagai pribadi yang memiliki kecakapan intelektual, Soesalit ditawari berbagai kesempatan oleh kakak tirinya. Namun, keputusan untuk memasukkan Soesalit ke Politieke Inlichtingen Dienst (PID), polisi rahasia Belanda, membawa Soesalit pada persimpangan moral. Tugasnya sebagai agen rahasia membuatnya harus memata-matai bangsanya sendiri—dilema yang menggelisahkan batinnya.

Kedatangan Jepang ke Indonesia menjadi titik balik bagi Soesalit. Ia meninggalkan PID dan bergabung dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Lalu, dalam perang kemerdekaan, Soesalit berperan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro, bahkan turut serta dalam gerilya di Gunung Sumbing ketika terjadi Agresi Militer Belanda II.
Namun, jalur karier militer Soesalit tidak selalu mulus. Beberapa kali pangkatnya mengalami penurunan. Puncak dari semua itu terjadi saat Pemberontakan PKI Madiun 1948. Sebuah dokumen yang mengaitkan namanya sebagai “Orang Yang Diharapkan” dalam pemberontakan komunis tersebut muncul, mengguncang karier militernya.
Soesalit Djojoadhiningrat akhirnya dijadikan tahanan rumah dan dipindahkan menjadi pejabat di Kementerian Perhubungan, dengan pangkat militer yang tak lagi berbintang. Putra tunggal R.A. Kartini itu menghembuskan nafas terakhirnya di RSAP pada tanggal 17 Maret 1979. Hingga akhir hayat, ia berpesan kepada keturunannya untuk selalu bersikap rendah hati dan tidak terlalu membanggakan garis keturunan dari Kartini.
Pesan ini menjadi cermin kerendahan hati Soesalit yang memahami nilai dan tanggung jawab menjadi bagian dari keluarga yang memiliki pengaruh sejarah bagi Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan kita tentang loyalitas kepada bangsa dan pilihan sulit yang harus dihadapi seseorang dalam perjalanan hidup. @indonesiabuzz







