IndonesiaBuzz: Jakarta, 14 Januari 2024 – Milisi Houthi, kelompok pemberontak di Yaman, menjadi sasaran serangan dari Amerika Serikat dan Inggris pada Jumat (12/1) dini hari, seiring dengan pengeluaran resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait penyerangan kapal komersial di Laut Merah oleh kelompok tersebut.
Pihak Houthi, yang berhaluan Syiah dan didukung oleh Iran, merespons serangan tersebut. Pejabat senior Houthi, Mohammed Al Bukhaiti, mengungkapkan bahwa AS dan Inggris akan menyesal atas tindakan menyerang Yaman.
Menurut laporan dari New York Times, Houthi awalnya muncul di Yaman utara pada 1990-an sebagai kelompok pemberontak berhaluan Syiah yang didukung oleh Iran. Kelompok ini pertama kali dibentuk untuk membina Pemuda Zaydi, sebuah organisasi Syiah di kalangan pemuda.
Pemimpin awal Houthi, Hussein Badr Al Din Al Houthi, menawarkan pelayanan pendidikan, kesejahteraan sosial, dan persaudaraan. Awalnya, gerakan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Yaman, tetapi seiring waktu, ketegangan meningkat karena protes terhadap Presiden Ali Abdullah Saleh.
Konflik antara Houthi dan pemerintah semakin memanas setelah Saleh mendukung program AS “Perang Melawan Teror” dan invasi Amerika ke Irak pada 2003. Keputusan Saleh pada masa itu dianggap mencabut hak kaum Zaid dan mengancam tradisi Houthi.
Pada tahun 2010, konflik bersenjata di Yaman kembali memuncak selama Gelombang Arab Spring, yang berasal dari ketidakpuasan warga negara-negara Arab terhadap pemerintahan mereka. Pada 2014, Houthi memperbaiki hubungan dengan mantan Presiden Yaman Saleh, dan keduanya bekerja sama.
Pada akhir 2014, Houthi berhasil mengkudeta pemerintahan Yaman, menduduki ibu kota Sanaa, dan memicu perang sipil. Lebih dari 370.000 jiwa dilaporkan tewas sebagai dampak dari konflik tersebut.
Meskipun Yaman mengalami periode relatif tenang dalam setahun terakhir, serangan Houthi ke Israel meningkatkan risiko konflik, terutama bagi Arab Saudi. Houthi mengklaim terlibat dalam serangan ke Israel untuk membantu Hamas dan juga menyerang kapal komersial, khususnya yang terkait dengan Israel, di Laut Merah. Hingga saat ini, Houthi masih menduduki Sanaa dan mengklaim sebagai pemerintah yang berkuasa di Yaman, dengan sebagian besar wilayah utara di bawah kendali mereka, sementara Aden dikuasai oleh pemerintahan yang diakui secara internasional. @cinde







