IndonesiaBuzz: Jakarta – Menginvestasikan dana pada pasar saham dapat menjadi pilihan yang menjanjikan tingkat pengembalian yang tinggi, namun perlu diingat bahwa instrumen ini juga memiliki tingkat risiko yang sebanding. Selain dipengaruhi oleh kinerja perusahaan dan faktor eksternal, harga saham juga dapat berfluktuasi karena praktik manipulasi atau “saham gorengan.” Fenomena ini seringkali menimbulkan dampak negatif bagi investor ritel.
Kasus terkini, seperti korupsi dana pengelolaan investasi PT Asabri (Persero) dan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang melibatkan Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro, mencuat sebagai contoh manipulasi perdagangan saham di Indonesia. Tindakan “saham gorengan” ini dilakukan dengan menggunakan dana dari Jiwasraya, menempatkan dana ke saham-saham yang tidak likuid dengan harga yang dimanipulasi untuk menciptakan kesan positif terhadap kinerja portofolio investasi.
Apa yang dimaksud dengan saham gorengan? Saham gorengan dapat diartikan sebagai saham perusahaan yang mengalami kenaikan harga di luar kebiasaan karena pergerakannya direkayasa oleh pelaku pasar dengan tujuan tertentu. Bagi investor, mengenali saham gorengan menjadi kunci untuk tetap aman dalam bertransaksi di bursa saham.
Beberapa ciri-ciri saham gorengan yang perlu diperhatikan antara lain:
- Masuk Daftar Unusual Market Activity (UMA): Saham gorengan sering masuk ke dalam daftar UMA karena kenaikan harga yang ekstrem, melebihi batas harian yang ditetapkan oleh PT Bursa Efek Indonesia.
- Volume dan Nilai Transaksi Tinggi: Saham gorengan biasanya memiliki kapitalisasi pasar kecil, namun volume dan nilai transaksi harian yang tinggi. Ini membuatnya berbeda dari perusahaan sejenis, dan seringkali termasuk dalam kategori lapis dua atau tiga.
- Bid dan Offer Tidak Wajar: Saham gorengan ditransaksikan dalam jumlah besar, tetapi posisi bid dan offer-nya tipis-tipis. Hal ini memudahkan pelaku pasar untuk mengendalikan harga saham dengan mudah.
- Kinerja Keuangan Tidak Sejalan dengan Harga: Harga saham gorengan tidak selaras dengan kinerja keuangan perusahaan atau tidak didukung oleh informasi yang jelas dari internal emiten.
- Tidak Dapat Dianalisis Secara Fundamental: Valuasi saham gorengan terlalu tinggi dan tidak masuk akal, sehingga sulit untuk dianalisis secara fundamental. Rasio keuangan seperti price to book value (P/BV) dan earning per share (EPS) mungkin tidak sesuai dengan logika industri sejenis.
Untuk investor yang ingin tetap aman, perlu memahami karakteristik saham gorengan dan memantau pasar secara aktif. Pada dasarnya, menghindari seringnya transaksi saham gorengan serta memahami risiko yang terkait diperlukan untuk menjaga keamanan investasi di pasar saham.@cinde







