Indonesia buzz: Eko Sigit Pujianto – Di Dieng yang berkabut, ada sosok sepuh yang menempuh jalan sunyi dengan cara yang tak biasa: Mbah Fanani. Beliau tidak memilih gua, hutan, atau puncak gunung yang sepi sebagai tempat bertapa. Justru keramaianlah yang dipilihnya sebagai medan laku.
Bagi mata dunia modern, tempat tinggal beliau tampak ganjil: sederhana, seadanya, jauh dari layak disebut “rumah”. Namun di situlah letak rahasia laku spiritualnya. Mbah Fanani mengajarkan bahwa kesunyian sejati bukanlah tentang tempat yang sunyi, melainkan hati yang disunyikan dari hiruk-pikuk dunia.
Ia hadir di tengah keramaian manusia, namun tetap menjaga batin dari riuh rendah suara dunia. Beliau tidak lari dari dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai ruang tapa. Inilah laku yang disebut “bertapa di keramaian” di mana godaan dunia lebih nyata, dan kesabaran diuji tanpa henti.
Banyak yang heran mengapa beliau rela hidup di tempat yang tampak tak layak. Namun bagi seorang pengelana spiritual, kenyamanan bukanlah tujuan. Semakin tidak layak bagi dunia, semakin lapang bagi jiwa. Mbah Fanani seolah ingin menegur kita: bukankah rumah sejati manusia adalah hati yang tenang, bukan bangunan megah yang penuh gengsi?
Dalam diamnya, beliau menjadi penanda zaman. Di era ketika manusia mengejar modernitas, teknologi, dan kemewahan, Mbah Fanani justru menyingkir dari semua itu. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena ia sedang menempuh jalan lain: jalan kembali kepada Sang Pemilik Hidup.
Bagi mereka yang melihat dengan mata lahir, Mbah Fanani hanyalah seorang tua renta dengan tempat tinggal seadanya. Tetapi bagi mereka yang melihat dengan mata batin, beliau adalah cermin: bahwa yang sejati dari hidup ini bukanlah rupa luar, melainkan kelapangan hati dalam menerima dan mendekat kepada Tuhan.@sigit







