IndonesiaBuzz: Jakarta, 27 Mei 2024 – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa proyek jaringan gas (jargas) rumah tangga mampu menggantikan penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) sekaligus mengurangi aktivitas impor LPG. Hal ini diungkapkan oleh Menteri ESDM RI, Arifin Tasrif, yang menyatakan bahwa proyek jargas memiliki potensi besar untuk menggantikan peran LPG di rumah tangga dan industri.
“Jargas itu bisa gantiin impor LPG. Kalau enggak, makanya devisa kita habis semua. Sedangkan, kita produksi gasnya akan banyak,” ujar Arifin di Musrenbangnas, JCC Jakarta, Minggu (26/5/2024).
Saat ini, Kementerian ESDM tengah gencar mendorong pembangunan infrastruktur jargas di seluruh Indonesia. Proyek ini diharapkan dapat memaksimalkan pemanfaatan gas domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor LPG, yang selama ini menguras devisa negara.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menjelaskan bahwa gas bumi merupakan salah satu sumber energi andalan dalam era transisi energi untuk mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060. Oleh karena itu, infrastruktur terintegrasi sangat dibutuhkan untuk menyalurkan gas dari sumbernya hingga ke penerima di seluruh Indonesia.
“Gas pun akan kita sambungkan, Alhamdulilah kita sekarang banyak menemukan gas baru. Jadi, gas secara emisi juga jauh lebih baik dibandingkan batu bara,” ungkap Dadan dalam acara Rembuk Nasional Transisi Energi di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Pembangunan infrastruktur pipa gas sepanjang Sumatra dan integrasi Sumatra-Jawa menjadi kunci untuk penyaluran gas domestik. Hal ini dilakukan untuk menyalurkan potensi gas bumi dari Wilayah Kerja Agung dan Andaman, Aceh, sehingga gas dari ujung Sumatra dapat dimanfaatkan di Jawa dan daerah lain di Sumatra.
Dadan menambahkan, pembangunan infrastruktur jaringan gas tidak hanya mendukung harga gas yang lebih terjangkau, tetapi juga mengurangi biaya angkut atau toll fee. “Untuk memenuhi kebutuhan gas untuk industri, pembangkit listrik, komersil, dan rumah tangga,” katanya.
Saat ini, infrastruktur jaringan pipa gas Cisem (Cirebon-Semarang) tahap 1 telah terbangun dengan investasi Rp1,13 triliun. Jaringan Cisem tahap 2 yang akan dimulai tahun ini membutuhkan investasi Rp1,33 triliun dan untuk tahun 2025 membutuhkan Rp2,01 triliun.
Selain itu, program jargas untuk rumah tangga yang berasal dari jaringan Cisem dan Dusem (Dumai-Sei Mangkei) diproyeksikan dapat mengurangi subsidi LPG 3 kg hingga Rp0,63 triliun per tahun. “Dan hemat devisa impor LPG Rp1,08 triliun per tahun. Penghematan biaya masak Rp0,16 triliun per tahun,” tandas Dadan. @cinde







