IndonesiaBuzz: Jakarta, 2 Februari 2026 – PT Hutama Karya (Persero) mencatat progres pembangunan Stasiun Bawah Tanah Glodok Kota MRT Jakarta telah mencapai 82 persen. Proyek strategis ini ditargetkan rampung pada semester I 2027 dan diproyeksikan memperkuat konektivitas transportasi publik di kawasan pusat kota Jakarta.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Mardiansyah mengatakan, hingga Rabu (28/1/26), sejumlah pekerjaan utama masih berlangsung, meliputi pembangunan struktur pintu masuk stasiun (entrance), pekerjaan arsitektural, serta sistem mechanical, electrical, dan plumbing (MEP).
“Hingga saat ini progres telah mencapai 82 persen. Kehadiran stasiun ini nantinya diharapkan memberikan manfaat nyata bagi mobilitas warga serta mendukung penataan transportasi publik perkotaan yang lebih tertib dan terintegrasi,” ujar Mardiansyah dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/1/26)
Stasiun Bawah Tanah Glodok Kota merupakan bagian dari pengembangan MRT Jakarta Fase 2A dengan panjang koridor sekitar 1,33 kilometer. Pada paket pekerjaan ini, trase MRT menghubungkan Stasiun MRT Mangga Besar dengan Stasiun MRT Jakarta Kota, sekaligus menjadi penghubung mobilitas di kawasan Kota Tua dan sekitarnya.
Pembangunan di wilayah pusat kota yang memiliki tingkat kepadatan tinggi ini dirancang untuk memperkuat integrasi antarmoda. Fokus penataan mencakup peningkatan akses pejalan kaki, konektivitas menuju moda transportasi lain di sekitar kawasan, serta perbaikan kualitas ruang publik guna meningkatkan kenyamanan pengguna.
Mardiansyah menambahkan, proyek ini dilaksanakan melalui kolaborasi lintas pihak. Hutama Karya mengerjakan paket kontrak CP 203 bersama mitra asal Jepang, Sumitomo Mitsui Construction Company (SMCC), melalui skema kerja sama operasi (joint operation) SMCC-HK JO, dengan PT MRT Jakarta (Perseroda) sebagai penyelenggara proyek.
Menurut dia, keberadaan stasiun tidak hanya menghadirkan infrastruktur baru, tetapi juga berperan dalam membentuk pola mobilitas perkotaan yang lebih efisien. Transportasi publik yang terhubung dengan baik dinilai dapat membuat waktu tempuh lebih terprediksi, mengurangi kepadatan lalu lintas, serta mendorong pertumbuhan kawasan aktivitas tinggi secara lebih tertata.
Dalam konteks Glodok-Kota, penguatan konektivitas diharapkan turut mendukung pergerakan masyarakat menuju kawasan wisata, pusat kuliner, dan sentra perdagangan tanpa menambah beban kemacetan di titik titik yang selama ini padat.
Integrasi antarmoda menjadi salah satu aspek kunci dalam pembangunan stasiun bawah tanah ini. Dengan karakter kawasan pusat kota yang memiliki simpul transportasi berdekatan, kualitas pengalaman berpindah moda sangat ditentukan oleh detail desain, mulai dari akses pejalan kaki, koneksi menuju halte atau stasiun lain, hingga kenyamanan ruang publik di sekitarnya.
Karena itu, pembangunan Stasiun Bawah Tanah Glodok Kota dirancang dengan perspektif pengguna, agar perpindahan antar moda dapat berlangsung mulus, aman, dan nyaman, terutama pada jam jam sibuk. @yudi







