IndonesiaBuzz: Ponorogo, 10 Oktober 2025 – Musim kemarau tahun ini membawa berkah bagi petani di Desa Purworejo, Kecamatan Balong, Ponorogo. Mereka tengah menikmati masa panen raya tembakau dengan harga jual tinggi.
Hasil panen yang melimpah membuat para petani bersiap menjadi “orang kaya baru” (OKB) tahun ini.
Kepala Desa Purworejo Didik Subagio mengatakan, hampir seluruh lahan di desanya ditanami tembakau setiap musim kemarau.
“Tahun ini sekitar 98 persen atau 100 hektare lahan kami ditanami tembakau,” ujarnya,
Menurut Didik, petani bekerja sama dengan pihak ketiga untuk pemasaran hasil panen. Harga tembakau kering diserap dengan nilai Rp 35 ribu per kilogram, bahkan ada yang tembus hingga Rp 45 ribu per kilogram.

“Sekali tanam bisa panen beberapa kali. Banyak petani mendadak jadi jutawan,” ungkapnya.
Desa Purworejo dikenal sebagai sentra tembakau terbesar di Ponorogo. Varietas yang dibudidayakan pun beragam, mulai dari tembakau kecil hingga jenis virgin.
Tahun ini, para petani bersyukur karena cuaca mendukung tanpa ancaman kemarau basah maupun banjir.
“Satu petani rata-rata menanam satu hektare atau tujuh kotak. Nilainya bisa mencapai Rp 30 juta per kotak sekali panen,” jelas Didik.
Salah satu petani, Alip Hidayanto, mengaku menanam tembakau bukan perkara mudah. Selain rawan hama dan perubahan cuaca, proses pascapanennya juga panjang.
“Setelah dipetik, daun tembakau disimpan tiga hari sebelum dirajang, lalu dijemur beberapa hari baru dijual,” katanya.
Menurut Alip, tanaman tembakau mulai bisa dipanen setelah 120 hari masa tanam.
“Saya mulai tanam bulan Juni, sekarang sudah bisa petik. Nanti bisa sampai enam atau tujuh kali petikan,” tambahnya. (As Adil Fajar/Koresponden Ponorogo)







