IndonesiaBuzz: Bojonegoro, 17 Februari 2026 – Kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kesuburan tanah kian menguat di kalangan petani Bojonegoro. Praktik pertanian yang lebih berkelanjutan mulai diterapkan, salah satunya oleh Kelompok Tani Setyo Budi Utomo di Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho.
Didampingi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro (DKPP), para petani setempat mempraktikkan pembuatan dekomposer cair secara mandiri. Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat pengolahan lahan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis yang selama ini mendominasi praktik budidaya.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) DKPP Bojonegoro, Moch. Minan, menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun petani terbiasa membakar sisa jerami padi usai panen. Jerami kerap dianggap limbah yang menghambat jadwal tanam berikutnya, sehingga pembakaran menjadi pilihan cepat. Padahal, praktik tersebut berdampak negatif terhadap struktur tanah dan mematikan mikroorganisme bermanfaat.
“Dekomposer ini mempercepat penguraian sisa organik seperti jerami padi menjadi unsur hara yang siap diserap tanaman. Ini adalah cara kita ‘menabung’ kesuburan untuk masa depan lahan,” ujar Minan, Selasa (17/2/26).
Secara ilmiah, dekomposer merupakan organisme yang berfungsi mengurai bahan organik mulai dari daun gugur, ranting, hingga sisa makhluk hidup menjadi unsur anorganik yang kembali memperkaya tanah. Tanpa proses dekomposisi, residu organik akan menumpuk dan mengganggu keseimbangan ekosistem lahan.
Menurut Minan, penggunaan dekomposer cair buatan sendiri menghadirkan sejumlah manfaat konkret. Dari sisi ekonomi, petani dapat menekan biaya produksi karena tidak lagi bergantung pada produk pabrikan yang harganya kerap fluktuatif. Dari sisi ekologis, populasi mikroba baik di dalam tanah meningkat, membantu memulihkan lahan yang jenuh akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
Lebih jauh, teknologi hayati ini juga berdampak pada efisiensi waktu tanam. Jerami yang sebelumnya membutuhkan waktu lama untuk terurai, kini dapat hancur lebih cepat melalui proses fermentasi terkontrol. Lahan pun siap ditanami kembali tanpa jeda panjang.
“Ini bisa mempercepat jadwal tanam. Dengan dekomposer, jerami yang biasanya butuh waktu lama untuk membusuk kini hancur lebih cepat,” jelasnya.
Tak hanya memperbaiki kesuburan, dekomposer juga berfungsi sebagai strategi preventif dalam pengendalian hama dan penyakit. Sisa tanaman musim sebelumnya kerap menjadi tempat persembunyian organisme pengganggu tanaman. Melalui fermentasi optimal, siklus hidup hama dapat diputus sebelum memasuki musim tanam berikutnya.
Praktik mandiri yang dilakukan petani Luwihaji ini dinilai sebagai fondasi penting dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan. DKPP berharap pendekatan ramah lingkungan tersebut konsisten diterapkan dan dapat direplikasi oleh petani di wilayah lain.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan biaya produksi, langkah kecil dari desa ini menjadi sinyal transformasi. Pengelolaan tanah berbasis ekologi tak lagi sekadar wacana, melainkan strategi nyata memperkuat ketahanan pangan dari hulu dimulai dari kesehatan tanah itu sendiri. (M.Tohir /Koresponden Bojonegoro)







