IndonesiaBuzz: Jakarta, 12 Desember 2023 – Pengamat politik sekaligus pendiri Pusat Studi untuk Demokrasi, Kiki Rizki Yoctavian, mengeluarkan kritik tajam terhadap Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang baru-baru ini merilis hasil riset perolehan suara Capres Cawapres terbaru. Menurutnya, lonjakan angka Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang mencapai 45,6%, seperti yang disampaikan oleh LSI, mencurigakan dan dianggap sebagai elektoral rekayasa.
Kiki menyoroti perbedaan signifikan dalam perolehan suara antara pasangan Prabowo-Gibran dengan Ganjar Pranowo – Mahfud MD, dan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar, yang disebut-sebut LSI. Dia mencatat bahwa dalam rentang waktu 48 hari, survei LSI mencatat kenaikan suara Prabowo sebesar 9,7 persen, setara dengan 19,8 juta suara jika dikonversi dengan jumlah suara basis Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 204 juta.
Kiki meragukan narasi yang kuat dan mesin amplifikasi sebesar apa yang mampu membuat 19,8 juta suara berpindah ke Prabowo dalam waktu singkat. Ia bahkan menyebut bahwa mesin dari berbagai pihak, seperti Bong Bong, Mossad, CIA, atau KGB, tidak akan mampu menghasilkan pergeseran suara sebesar itu.
“Jika survei LSI itu dianggap suatu kebenaran, maka pertanyaannya adalah bagaimana Prabowo bisa mendapatkan tambahan 416 ribu suara setiap hari? Isu apa yang mampu membuat dalam 48 hari ada 19,8 juta suara pindah ke Prabowo?” ujar Kiki mengritisi, Selasa (12/12/2023).
Pengamat politik tersebut juga membandingkan raihan pasangan Prabowo-Gibran dengan pasangan lainnya, mengajukan pertanyaan mengenai apa yang dilakukan oleh Ganjar Pranowo yang dapat memicu pergeseran sebesar itu.
“Kesalahan besar apa yang dilakukan Ganjar? Siapa yang dihina atau dinistakan Ganjar, sehingga ada kemuakkan luar biasa yang membuat 19,8 juta suara pindah ke Prabowo?,” ungkap Kiki.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa bahkan isu-isu kontroversial dalam Pilkada DKI pun tidak mampu menggerakkan suara secepat dan sebesar yang terjadi dalam survei LSI.
“Bahkan kalau kita gunakan Pilkada DKI sebagai perbandingan, maka tuduhan penistaan Agama dan diriingi Demo berjilid jilid saja tidak mampu menggeser suara sebesar dan secepat ini,” imbuhnya.
Kiki Rizki Yoctavian menyimpulkan bahwa tidak ada kesalahan yang dapat diidentifikasi dari pasangan Ganjar-Mahfud atau Anies-Muhaimin yang dapat menjelaskan pergeseran suara sebesar 19,8 juta dalam waktu 48 hari. Dia mengajukan pertanyaan kritis terkait kemungkinan sampling error dalam metode survei, dan menyerukan agar seluruh lembaga survei melakukan evaluasi mendalam terhadap metode mereka untuk hasil yang lebih kredibel. @indonesiabuzz







