IndonesiaBuzz: Humaniora – Setelah Peristiwa Madiun 1948, banyak pihak memprediksi Partai Komunis Indonesia (PKI) akan melemah. Namun, justru sebaliknya. Partai ini bangkit dan mencapai puncak kejayaannya pada Pemilu 1955, pemilu demokratis pertama di Indonesia.
Di Kota Semarang, PKI berhasil mendominasi parlemen daerah. Berdasarkan penelitian mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), Risdha Nugroho Budiyanto, dalam skripsinya berjudul “Aktivitas Gerwani di Kota Semarang Tahun 1950-1965”, PKI meraih 14 kursi DPRD Peralihan. Sementara, Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Nahdlatul Ulama (NU) masing-masing hanya memperoleh tiga kursi. Partai Baperki meraih dua kursi, sedangkan Masyumi, Partai Katolik, dan PP3RI masing-masing satu kursi.
Dengan hasil ini, PKI bukan hanya menguasai kursi parlemen, tetapi juga mempertegas posisinya sebagai kekuatan politik utama di kota industri tersebut.
Sejarawan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Tsabit Azinar Ahmad, mengatakan, dominasi PKI di Semarang tak lepas dari basis massa buruh yang kuat. “PKI itu kuat di kalangan buruh, Semarang pada waktu itu industrinya juga sedang berkembang. Meski pasca Peristiwa Madiun, pemilih PKI tetap banyak,” ujarnya, Selasa (30/9/2025).
Menurut Tsabit, strategi PKI yang menyasar masyarakat menengah ke bawah menjadi faktor penting perkembangan partai tersebut. “Pada pemilu 1955, angka PKI paling tinggi jika dibandingkan PNI dan NU. Hampir di semua lokasi pemilihan di Semarang, PKI menang,” tambahnya.
Kuatnya basis massa PKI juga terkait peran Semaoen, tokoh pergerakan buruh dan pendiri PKI. Sejak awal berdirinya, partai ini mendapat perhatian pemerintah kolonial Hindia Belanda. Semaoen yang sebelumnya aktif di Serikat Islam (SI) berhasil menambah jumlah anggota PKI di Semarang hingga puluhan ribu orang dalam waktu satu tahun.
Namun, kepemimpinan partai berpindah ke Tan Malaka setelah Semaoen dikirim ke Uni Soviet untuk menghadiri kongres internasional. PKI pada masa itu sempat mengalami pasang surut karena berbenturan dengan pemerintah terkait aksi mogok buruh.
“Dukungan PKI terhadap aksi buruh memang menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, partai dicintai rakyat kecil, tapi di sisi lain, tekanan pemerintah semakin keras. Bahkan pada 1923, Semaoen ditahan karena pemogokan buruh kereta api dan akhirnya diusir ke Amsterdam,” kata Tsabit.
Kemenangan PKI di Semarang menjadi cermin bahwa strategi yang menyentuh akar masyarakat khususnya kelas pekerja memberikan kekuatan politik yang signifikan, meski diwarnai dinamika konflik dan tekanan kolonial. (red)







