IndonesiaBuzz: Surakarta, 17 Juni 2026 – Malam Satu Suro biasanya identik dengan kirab pusaka di Karaton Surakarta. Setiap tahun, tradisi ini menarik perhatian ribuan warga yang datang untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut.
Namun, suasana berbeda terlihat pada peringatan 1 Suro 1960 Jawa, Selasa(16/6/2026) malam. Kali ini, pusaka karaton tidak dikeluarkan untuk dikirab. Meski begitu, rangkaian ritual dan doa tetap berjalan seperti biasa.
SISKS Pakoe Boewono XIV memutuskan untuk tidak menggelar kirab pusaka. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai hal. Salah satu pertimbangan utama adalah keselamatan pusaka yang menjadi warisan Karaton Surakarta.
Pengageng Paran Parakarsa Pakoe Boewono XIV, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat atau Kanjeng Dany, mengatakan keputusan tersebut berasal langsung dari Sinuhun.
“Dengan pertimbangan berbagai macam hal, termasuk prioritas keselamatan pusaka dan lain hal, maka Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakoe Boewono XIV memutuskan untuk tidak miyoskan pusaka malam hari ini,” ujar Dany.
Menurutnya, pihak karaton telah melakukan pembahasan internal sebelum keputusan diambil. Setelah menerima laporan dari tim, Sinuhun kemudian memberikan keputusan akhir.
Karena keputusan itu, berbagai perlengkapan kirab yang sudah disiapkan akhirnya ditarik kembali. Oncor atau obor yang biasanya digunakan dalam prosesi juga tidak jadi digunakan.
Meskipun kirab pusaka tidak digelar, Karaton Surakarta tetap menjalankan berbagai kegiatan adat. Dengan demikian, peringatan malam Satu Suro tetap berlangsung khidmat.
Beberapa kegiatan yang digelar antara lain haul Pakoe Boewono X, wilujengan, doa bersama, iktikaf, serta salat hajat di Masjid Pujosono. Selain itu, keraton juga menggelar doa bersama di kawasan Bandengan.
Menurut Dany, malam Satu Suro tidak hanya berkaitan dengan kirab pusaka. Sebaliknya, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih luas.
“Upacara peringatan Malam 1 Suro itu bukan cuma kirab saja. Rangkaian upacaranya banyak sekali,” katanya.
Lebih lanjut, Dany menjelaskan bahwa malam Satu Suro merupakan waktu untuk berdoa dan melakukan refleksi diri. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu memaknai peringatan ini hanya dari ada atau tidaknya kirab pusaka.
Sementara itu, para abdi dalem dan sentana dalem tetap diberi kesempatan untuk menjalani laku spiritual. Mereka dapat berjalan mengelilingi kawasan karaton sambil berdoa dan bermunajat.
Di tengah dinamika yang masih terjadi di lingkungan Karaton Surakarta, tradisi malam Satu Suro tetap berjalan. Namun, fokus utamanya kali ini berada pada doa dan perenungan.
Dengan begitu, masyarakat tetap dapat merasakan nilai spiritual yang menjadi inti peringatan tahun baru Jawa. Pada akhirnya, malam Satu Suro bukan hanya tentang prosesi budaya. Tradisi ini juga menjadi ruang untuk menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan warisan leluhur. @dimas




