IndonesiaBuzz: Ngawi, 23 Februari 2026 – Datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah membawa warna tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Ngawi. Tradisi ngabuburit yang identik dengan berburu takjil kini berpadu dengan pertunjukan seni budaya dalam kemasan bertajuk “Raja Takjil Ketanggi”.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi tersebut digelar di halaman Kepatihan Ngawi, Jalan Patiunus, Kelurahan Ketanggi, minggu (22/2/26). Mengusung konsep bazar takjil dan pentas seni budaya, acara ini menjadi magnet baru aktivitas jelang berbuka puasa di wilayah yang dikenal sebagai Kota Ramah itu.
Puluhan pedagang makanan siap saji turut dilibatkan dalam bazar Ramadan tersebut. Kehadiran pelaku UMKM berdampingan dengan para seniman lokal menciptakan ruang interaksi sosial sekaligus penguatan ekonomi warga.
Kabid Kebudayaan Dikbud Ngawi, Cita Putri Maharani, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dikemas lebih semarak selama Ramadan dengan menggandeng pedagang takjil di sekitar kawasan Kepatihan.
“Acara ini memang inisiasi dari Bidang Kebudayaan Dikbud Ngawi dan sebenarnya rutin digelar. Namun karena momen Ramadan, kami menggandeng penjual takjil sekitar agar masyarakat bisa menikmati pertunjukan budaya sekaligus berbelanja untuk berbuka puasa,” ujar Cita saat ditemui di lokasi, Minggu (22/2/26).
Menurutnya, kemasan “Raja Takjil Ketanggi” tidak sekadar menjadi ruang hiburan, tetapi juga bagian dari strategi pelestarian seni budaya lokal serta penguatan ekonomi kerakyatan. Selama bulan Ramadan, bazar dan pentas seni akan digelar setiap hari dengan sajian pertunjukan yang bergantian, mulai dari reog, tari tradisional, hingga kesenian daerah lainnya.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan pendopo yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya ini pun menuai apresiasi masyarakat. Kepala Kelurahan Ketanggi, Reza Alhafit, menilai sinergi antara bazar UMKM dan pentas seni mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga.
“Alhamdulillah, kegiatan ini sangat bermanfaat, khususnya bagi pelaku UMKM. Mereka terfasilitasi dalam kegiatan milik Dikbud, dan ini jelas membantu mengangkat perekonomian warga Ketanggi,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari membludaknya pengunjung yang mencapai ribuan orang setiap sore. Selain berburu takjil, warga memanfaatkan momen tersebut untuk menikmati suguhan seni budaya sembari menunggu azan magrib berkumandang.
Kolaborasi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi ini menjadikan Ramadan di Ngawi tahun ini terasa berbeda. “Raja Takjil Ketanggi” tidak hanya menjadi pusat kuliner dadakan, tetapi juga panggung kebersamaan yang menguatkan identitas budaya sekaligus denyut ekonomi lokal. (Eaputra /Koresponden Ngawi)







