Hari ini kami dijamu:
nasi kotak gratis dari malaikat negeri.
Isinya lengkap nasi, lauk, vitamin,
plus bonus keracunan massal.
Terima kasih, wahai penguasa,
perhatianmu sungguh mengenyangkan.
Kami pun berbaris di IGD,
tetap sempat berteriak: Merdeka!
Demo ojol dibayar asap knalpot,
demo RUU dibalas pasal karet,
demo perut lapar disuguhi racun bersubsidi.
Indah nian negeri ini.
Di spanduk kami tulis:
“Jangan lupa makan bergizi!”
Di poster kami tambah:
“Kalau bisa, jangan sampai mati.”
Kalian sibuk berpidato:
tentang revolusi pangan,
tentang generasi emas.
Sementara di jalanan,
kami menghitung korban dari nasi kotak.
Dan puisi ini
biarlah jadi menu tambahan:
sedikit getir, sedikit asin,
tapi lebih jujur
daripada semua janji kalian.







