IndonesiaBuzz: Yogyakarta, 23 Juli 2025 – Di tengah pesatnya perkembangan transportasi modern seperti ojek online dan bus kota, keberadaan becak motor (bentor) masih setia mewarnai lalu lintas kawasan Malioboro, Yogyakarta. Kendaraan roda tiga yang dulunya digerakkan tenaga manusia ini kini dimodifikasi dengan mesin, namun tetap mempertahankan nuansa klasik yang menjadi daya tarik wisatawan.
Para pengemudi bentor masih setia mangkal di sepanjang Jalan Malioboro, mulai dari dekat Gedung Bank Indonesia hingga Titik Nol Kilometer. Bentor kerap dipilih wisatawan yang ingin menikmati suasana Malioboro secara santai dan perlahan.
Surono, pengemudi bentor yang sudah beroperasi lebih dari dua dekade di kawasan tersebut, mengakui adanya penurunan jumlah penumpang sejak hadirnya transportasi berbasis aplikasi. Namun, menurutnya, masih ada wisatawan yang mencari pengalaman otentik berkeliling Malioboro menggunakan becak motor.
“Kami ini tinggal menjaga warisan. Walaupun tidak seramai dulu, masih banyak wisatawan yang suka naik becak motor, apalagi kalau sore hari sambil lihat-lihat kota,” kata Surono, Selasa (23/7/25).
Bentor di Malioboro biasanya melayani penumpang dari pagi hingga malam hari. Sistem tarifnya fleksibel, disesuaikan dengan jarak atau hasil kesepakatan langsung antara pengemudi dan penumpang. Selain itu, operasional bentor juga diatur dan hanya diperbolehkan di wilayah tertentu oleh pemerintah kota.
“Selama masih diperbolehkan pemerintah, kami akan tetap narik. Ini bukan sekadar cari nafkah, tapi juga jaga tradisi,” tambah Surono.
Keberadaan bentor tak hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga menjadi simbol perlawanan budaya di tengah arus modernisasi. Di jalanan Malioboro yang semakin padat, bentor tetap hadir sebagai pengingat tradisi, keramahan, dan kesederhanaan khas Yogyakarta. (Dimas Prasetya/Koresponden Jogja)





