IndonesiaBuzz: Palangka Raya, 5 September 2026 – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan pemerintah akan memperkuat operasi penyelamatan satwa liar, khususnya orangutan, yang terdampak asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Penguatan dilakukan melalui peningkatan patroli, sosialisasi kepada masyarakat, hingga kesiapan tenaga medis dan peralatan untuk menangani satwa yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Saat ini, sedikitnya 21 orangutan dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat dampak karhutla.
Raja Juli mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan sejumlah organisasi konservasi yang selama ini menangani penyelamatan dan rehabilitasi orangutan Kalimantan. Tiga lembaga yang terlibat antara lain Orangutan Foundation International (OFI), Orangutan Foundation United Kingdom (OF-UK), dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
“Dalam konteks karhutla, dari awal kami juga sudah berkoordinasi, bekerja sama, dan malam tadi, hasil rapat koordinasi kami, kami akan merapatkan kembali kerja sama ini lebih baik lagi,” ujar Raja Juli saat mengunjungi kawasan Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (5/9/2026).
Menurut dia, dampak karhutla tidak hanya mengancam keselamatan manusia, tetapi juga satwa liar yang habitatnya terdampak kebakaran maupun kepungan asap.
“Dampak karhutla ini adalah yang paling (terdampak), selain kepada manusia, tentu juga kepada satwa liar. Nah, satgas yang ada selama ini kita perkuat kembali. Jadi, satgas penyelamatan satwa liar, ya, di Kalimantan Tengah,” katanya.
Salah satu langkah yang akan dilakukan pemerintah adalah meningkatkan sosialisasi nomor layanan penyelamatan satwa liar kepada masyarakat.
Raja Juli meminta warga yang menemukan orangutan atau satwa liar lainnya di sekitar permukiman segera melaporkannya kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melalui nomor 081152185000.
Setelah laporan diterima, tim terdekat akan diterjunkan untuk melakukan penyelamatan. Tim tersebut dapat berasal dari BOSF, OFI, OF-UK, maupun BKSDA Kalteng.
“Dan kemudian nanti siapa yang paling dekat, apakah BOSF, apakah OFI, apakah OF-UK, atau balai kami sendiri, nanti itu yang pertama melakukan rescue (penyelamatan),” ujar Raja Juli.
Pemerintah juga akan meningkatkan frekuensi patroli. Jika sebelumnya patroli dilakukan secara berkala, kini kegiatan tersebut didorong berlangsung setiap hari selama kondisi karhutla masih mengancam satwa liar.
“Kalau dulu cuma seminggu sekali atau berapa kali, kalau sekarang setiap hari, patroli sekaligus sosialisasi kepada masyarakat kalau bertemu, menemukan orangutan, hal yang pertama dilakukan adalah telepon ke nomor call center,” katanya.
Selain memperkuat mekanisme penyelamatan di lapangan, Kementerian Kehutanan juga memastikan kesiapan fasilitas kesehatan bagi satwa yang terdampak asap dan kebakaran.
Raja Juli mengatakan setiap lembaga konservasi telah memiliki dokter hewan. Namun, jika kebutuhan tenaga medis meningkat dan tidak dapat dipenuhi oleh sumber daya yang tersedia di Kalimantan Tengah, Kementerian Kehutanan siap menambah personel dari daerah lain.
“Kita sudah cek, masing-masing punya dokter hewan, ya kalau kurang, nanti kita juga bisa kirimkan, BKO-kan dari Jawa,” ujarnya.
Dari sisi peralatan, pemerintah juga mengecek ketersediaan perangkat penanganan gangguan pernapasan, termasuk tabung oksigen dan nebulizer.
“Untuk peralatan, ya. Tadi kita cek, tabung oksigen dan nebulizer, ya. Nebulizer untuk mencegah terjadi gangguan pernapasan bagi orangutan,” imbuhnya.
Raja Juli berharap penguatan operasi penyelamatan tersebut dapat menekan dampak karhutla terhadap populasi satwa liar di Kalimantan Tengah.
Orangutan yang berhasil diselamatkan nantinya diharapkan tidak langsung dikembalikan ke habitatnya, melainkan terlebih dahulu dibawa ke rescue center untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing satwa. @yudi







