IndonesiaBuzz: Bojonegoro, 2 Agustus 2025 – Bojonegoro memiliki banyak jenis kesenian musik tradisional, di antaranya adalah oklik. Oklik merupakan kesenian tradisional khas Bojonegoro yang menggunakan peralatan sederhana yaitu kentongan dari bambu. Jenis musik ini bahkan dimainkan hampir setiap pemuda di Bojonegoro saat bulan Ramadan, yaitu menjelang sahur yang berfungsi untuk membangunkan warga.
Menurut seniman oklik asal Desa Sobontoro, Darminto (64), nama oklik berasal dari bunyi klik klok klik dari alat yang dimainkan. Oklik awalnya memang dari Desa Sobontoro, akan tetapi sekarang sudah tumbuh dan berkembang di seluruh desa di Bojonegoro. Darminto sendiri adalah generasi ketiga penerus pemain oklik.
“Sudah tidak hanya dimainkan oleh masyarakat Desa Sobontoro saja, melainkan warga desa lain juga banyak yang memainkannya. Cara memainkannya juga beda-beda,” kata Darminto, Jumat (1/07/2025).
Darminto menyebut, awal mula oklik berasal dari kisah nyata warga Desa Sobontoro. Pada suatu masa, terjadi pagebluk di Desa Sobontoro. Penyakit datang secara membabi buta. Banyak warga yang diserang dan meninggal. Masyarakat pun resah dan kesusahan. “Bukan hanya penyakit saja, tapi juga marak perampokan maupun pencurian. Sehingga menyebabkan masyarakat tidak memiliki keberanian untuk keluar rumah,” jelas Darminto.

seniman oklik asal Desa Sobontoro, Darminto
Kemudian, lanjut Darminto, ada tokoh sepuh Desa Sobontoro yang tampil untuk menolong. Tokoh tersebut berangkat mencari srono (obat) dengan cara meditasi.
“Dari meditasi itu dia mendapat petunjuk agar masyarakat membuat bunyi-bunyian dari bambu. Dari situlah awalnya tercipta alat musik oklik. Pagebluk lama-kelamaan hilang. Msyarakat jadi kian rukun dan mudah bersatu,” lanjut Darminto.
Seiring berjalannya waktu, wabah penyakit maupun pagebluk itu mulai berkurang. Namun, kesenian oklik tersebut masih digunakan dalam sehari-hari. Di mana kesenian oklik juga digunakan dalam pemersatu masyarakat desa Sobontoro untuk berkumpul dan bercengkrama.
Menurut buku Oklik Bojonegoro (Nuntera, 2022), selain untuk membangunkan sahur di bulan Ramadan, oklik juga biasa menjadi seni pertunjukan. Di hari-hari istimewa seperti sedekah bumi suatu desa, acara adat, hingga kenduri pernikahan warga, pemain oklik kerap disewa untuk menghibur masyarakat.
Saat ini oklik telah sah menjadi kesenian milik Bojonegoro sejak dikeluarkannya sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) oleh Kementerian Hukum dan HAM pada akhir 2022 lalu. Hal itu menjadi langkah penting untuk melindungi kekayaan kesenian suatu daerah. (M. Tohir/Koresponden Bojonegoro)







