IndonesiaBuzz: Jakarta, 6 Juni 2024 – Jutaan warga lanjut usia (lansia) di Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat drastis ke depan, memicu tekanan besar bagi generasi penerus yang dikenal sebagai generasi sandwich. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 terdapat sekitar 27,88% rumah tangga di Indonesia yang merupakan rumah tangga lansia, dan angka ini naik menjadi 33,16% pada 2023. Ini berarti ada sekitar tiga dari sepuluh rumah tangga di Indonesia yang memiliki lansia sebagai anggota rumah tangga.
Generasi Sandwich: Menghidupi Dua Generasi
Generasi sandwich adalah istilah yang menggambarkan generasi muda yang terjepit di antara dua tanggungan, yaitu merawat orang tua lansia dan memenuhi kebutuhan anak-anak mereka sendiri. Fenomena ini menciptakan tekanan finansial dan emosional yang signifikan bagi kelompok usia produktif. Data BPS pada 2020 menunjukkan bahwa 71 juta penduduk Indonesia merupakan generasi sandwich, mewakili lebih dari seperempat populasi. Sebanyak 8,4 juta dari mereka tinggal bersama extended family yang mereka biayai.
Gen Z dan Jeratan Pinjaman Online
Dengan proyeksi BPS bahwa pada 2025 akan ada 67,90 juta orang dalam kelompok usia produktif (15 – 64 tahun), banyak Gen Z yang kini memasuki usia produktif akan bergabung dengan generasi sandwich. Sayangnya, banyak di antara Gen Z yang baru memasuki dunia kerja belum memiliki kestabilan finansial yang baik, sehingga mereka sering mengandalkan pinjaman online (pinjol) untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Maret 2024 menunjukkan bahwa ada 9,18 juta rekening pinjol dari kelompok usia 19 – 34 tahun, dengan total pinjaman mencapai Rp28,80 triliun, naik hampir Rp2 triliun dalam setahun. Mirisnya, banyak anak di bawah 19 tahun juga terjerat pinjol. Statistik OJK menunjukkan bahwa hingga Maret 2024, terdapat lebih dari 90.000 rekening pinjaman online di kelompok usia ini, naik 28,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada September 2023, jumlah rekening pinjol di bawah 19 tahun mencapai puncak tertinggi dengan 178.000 rekening dan total pinjaman Rp283,89 miliar. Pada Maret 2024, nilai pinjaman untuk usia di bawah 19 tahun mencapai Rp211,43 miliar, naik hampir 60% dari tahun sebelumnya.
Dampak dan Solusi
Fenomena ini menunjukkan perlunya perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Kebijakan yang mendukung kesejahteraan lansia dan pengurangan ketergantungan pada pinjaman online sangat diperlukan. Program edukasi finansial dan peningkatan lapangan kerja bagi generasi muda dapat membantu mengurangi tekanan yang dihadapi generasi sandwich.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan beban yang ditanggung oleh generasi sandwich dapat dikurangi, dan kesejahteraan lansia serta generasi muda dapat lebih terjamin di masa depan. @cinde







