IndonesiaBuzz: Yogyakarta, 13 September 2025 – Kisah legenda pejuang rakyat Sakera dibawakan tim dari Paguyuban Silat Madura dalam rangkaian Pencak Malioboro Festival (PMF) 2025 di Gerbang Barat Kepatihan, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (13/9/2025). Penampilan ini menjadi salah satu yang menyita perhatian pengunjung di kawasan wisata ikonik tersebut.
Sakera atau Sadiman dikenal sebagai tokoh perlawanan di Pasuruan, Jawa Timur, pada awal abad ke-19. Ia berjuang melawan praktik ketidakadilan kolonial Belanda di perkebunan tebu dan pabrik gula. Sebagai seorang ahli bela diri, Sakera tampil membela para buruh tebu yang mayoritas orang Madura hingga dijuluki Sang Kerah.
Kisah heroik itu dihidupkan lewat koreografi pencak silat khas Madura. Gerakan tegas, hentakan kaki, hingga simbol celurit menjadi penanda kuat perlawanan Sakera terhadap penindasan. Para pengunjung terlihat antusias, sebagian bahkan mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel mereka.
Sejarah mencatat, Sakera akhirnya ditangkap setelah dikhianati oleh rekannya sendiri. Ia dihukum gantung di Penjara Bangil, Pasuruan, dan dimakamkan di Bekacak. Meski begitu, kisah perjuangan pria yang memperjuangkan hak-hak buruh itu tetap hidup, terutama di kalangan masyarakat Madura.

Paguyuban Silat Madura yang tampil di PMF menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar bela diri, tapi juga sarana untuk merawat sejarah dan identitas budaya. Membawakan kisah Sakera di ruang publik seperti Malioboro menjadi cara memperkenalkan tokoh lokal kepada generasi muda sekaligus wisatawan.
“Melalui seni bela diri, kita ingin menunjukkan bahwa budaya Madura kaya dengan nilai perjuangan. Sakera adalah simbol keberanian, dan lewat festival ini, kami berharap semangatnya bisa dikenang banyak orang,” ujar salah satu anggota pendekar setelah tampil.
Pencak Malioboro Festival ke-8 sendiri berlangsung 12–14 September 2025. Selama tiga hari, festival menampilkan berbagai atraksi pencak silat, workshop, hingga lomba kreatif. Selain menjadi hiburan, PMF juga menjadi ruang edukasi budaya bagi masyarakat sekaligus magnet wisata budaya Yogyakarta. (Jeje-Red)







