IndonesiaBuzz: Opini – Di negeri ini, negara begitu takut pada simbol bajak laut yaitu tengkorak lucu dari One Piece yang dipakai mahasiswa dan seniman buat protes. Luar biasa, ya? Bendera kartun bisa bikin penguasa gelisah, sampai ancaman pelarangan dan razia tanda-tanda “pemberontakan” dilontarkan.
Tapi lucunya, ketakutan ini tak berlaku sama sekali pada bajak laut versi asli yang berkeliaran di birokrasi. Mereka yang suka menggerogoti anggaran negara, mengatur “seleksi” pegawai berdasarkan rekomendasi tak masuk akal, atau mafia birokrasi yang malah jadi “raja” di balik layar entah kenapa tak pernah kena “razia simbolik.”
Lebih parah lagi, hukum di sini memang punya kemampuan supranatural, tajam ke bawah, tumpul ke atas. Penangkapan besar-besaran dilakukan pada penjudi online kecil yang kerjanya cuma jadi “budak” bandar, sementara bandar asli? Asik-asik saja, bahkan kadang didukung oleh oknum aparat yang seharusnya jadi penegak hukum.
Sementara simbol kartun yang cuma teriak dalam bentuk gambar yang paling berani hanya bikin poster dihantui seolah-olah itu ancaman terbesar negara. Padahal, kalau benar-benar dihadapi, ancaman sesungguhnya justru berasal dari balik meja rapat dan ruang birokrasi yang remang-remang.
Negara ini memang jagonya mengurusi hal-hal kecil yang bikin gaduh tapi aman, sambil membiarkan masalah besar mengendap dan membusuk. Jadi jangan heran kalau simbol One Piece bikin panik, tapi korupsi berjamaah malah dianggap “main-main.”
Begitulah supremasi hukum kita, pedang tajam buat rakyat kecil, dan pelindung baja buat para “raja” yang sesungguhnya. Sungguh sebuah pertunjukan bajak laut yang ironis, tapi sayangnya bukan dari manga, melainkan panggung nyata kehidupan kita.@sigit





