IndonesiaBuzz: Suara Generasi – Kalau dulu perjuangan kesetaraan butuh turun ke jalan, pidato lantang, dan barisan panjang di depan gedung parlemen, kini, cukup dengan satu unggahan Instagram Story dengan latar hitam dan font putih bertuliskan “Your feminism must be intersectional”, Gen Z sudah merasa sah menyuarakan keadilan.
Dan jangan salah. Meski sekilas terlihat seperti gaya sok tahu ala aktivis instan, di balik caption yang nyinyir tapi tajam itu, tersembunyi kesadaran yang tumbuh: tentang hak-hak yang sudah terlalu lama dibisukan, dan bias yang sudah terlalu lama dianggap normal.
Ketika Tagar Jadi Tindakan
Menurut studi Deloitte (2024), 83% Gen Z menyatakan dukungan aktif terhadap kesetaraan gender dan feminisme. Artinya, mayoritas dari mereka tidak hanya ikut-ikutan tren, tapi benar-benar percaya bahwa perempuan berhak bicara, minoritas layak dihormati, dan dunia seharusnya tidak dikendalikan oleh standar patriarki model zaman penjajahan.
Di Twitter (atau X, kalau kamu maksa pakai nama barunya), tagar seperti #NoMeansNo, #AntiSexualViolence, hingga #PrideSupport rutin muncul di linimasa, bukan cuma tiap Hari Perempuan Internasional, tapi nyaris setiap pekan, tergantung topik dan siapa yang lagi ketahuan misoginis.
Bukan Cuma Konten, Tapi Komitmen
Memang, di permukaan bisa tampak seperti konten-konten “aware” yang dibumbui estetik: feed Instagram yang penuh kutipan Rupi Kaur, foto tangan berpegangan dengan caption “love is love”, atau TikTok lipsync sambil nyinyirin komentar seksis. Tapi dari sinilah semuanya dimulai.
Sadar atau tidak, dari meme hingga thread panjang di Twitter, banyak anak muda belajar bahwa patriarki itu bukan mitos, bahwa pelecehan bukan salah rok korban, dan bahwa eksistensi seseorang tak bisa ditentukan preferensi seksual atau identitas gender semata.
Ini bukan sekadar “konten edukatif”, tapi upaya pelan-pelan membongkar budaya patriarkal yang sudah mengakar. Dan tentu saja, kadang dibumbui dengan sarkasme manis agar lebih mudah ditelan masyarakat digital yang alergi pada kuliah satu arah.
Ruang Aman di Tengah Dunia yang Tak Ramah
Yang menarik, Gen Z bukan sekadar ngomel di media sosial. Mereka menciptakan ruang-ruang aman di tengah dunia maya yang sering kali lebih kejam daripada debat politik. Komunitas virtual untuk survivor kekerasan seksual, ruang curhat bagi LGBTQ+, hingga forum diskusi feminisme intersectional kini tumbuh pesat.
Bagi generasi ini, inklusivitas bukan pilihan, tapi keharusan. Toleransi bukan basa-basi, tapi prinsip hidup. Dan semua itu diwujudkan bukan lewat pidato panjang yang membosankan, tapi lewat video berdurasi 30 detik yang menampar lebih keras dari khutbah hari Jumat.
Di Tengah Norma Konservatif, Mereka Tak Gentar
Tentu saja perjuangan ini tidak mulus. Di satu sisi ada generasi yang masih sibuk bertanya “kok laki-laki sekarang gampang baper?” dan “perempuan kerja, siapa yang urus anaknya?”. Di sisi lain, Gen Z tampil dengan hoodie dan earphone-nya, menjawab lewat konten TikTok: “norma itu bisa usang, kalau tidak relevan”.
Mereka sadar bahwa perubahan tidak akan datang dari pertemuan elit tertutup atau seminar bertema megah. Tapi dari setiap retweet, setiap swipe up ke link petisi, dan setiap edukasi ringan yang dikemas estetik di carousel Instagram.
Dan pada akhirnya, mereka hanya ingin satu hal: dunia yang adil, bukan cuma bagi dirinya, tapi bagi semua. Tanpa terkecuali.
Jadi, Masih Meremehkan Aktivis Digital?
Kalau iya, coba cek berapa banyak konten soal edukasi gender yang sudah kamu skip hari ini. Lalu lihat lagi, siapa tahu generasi yang kamu anggap “terlalu sensitif” ini justru sedang membuka jalan untuk masa depan yang lebih setara.
Dan ya, mereka melakukannya sambil ngopi oat latte dan scroll Reels. Siapa bilang perubahan butuh jas formal dan meja rapat? @indonesiabuzz







