Perkembangan zaman dan kemudahan akses layanan sosial telah mengubah tradisi pemakaman di berbagai daerah, tak terkecuali di Kabupaten Sragen. Kini, mobil ambulans milik komunitas, lembaga, hingga partai politik menjadi pilihan utama warga untuk mengantar jenazah dari rumah duka ke tempat peristirahatan terakhir.
Pemandangan keranda atau kereta jenazah yang diiringi para pelayat berjalan kaki sudah jarang, bahkan nyaris tak terlihat lagi. Tradisi yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi pemakaman kini perlahan memudar, tergantikan oleh kepraktisan moda transportasi modern. Salah satu saksi bisu pergeseran budaya ini adalah sebuah kereta jenazah tua yang teronggok di sudut Permakaman Umum SI, Sragen.
Kereta jenazah itu berwarna putih, beralas besi, dan berdinding kaca dengan rangka kayu berbentuk rumah kecil. Dulu, alat ini didorong secara manual sambil diiringi para pelayat yang membawa songsong—payung khusus pemakaman. Namun sejak 2014, kereta tersebut tak lagi digunakan.
“Kereta itu dibuat sekitar tahun 1990-an saat periode kedua Bupati R. Bawono. Awalnya untuk Masjid Kauman, lalu dipindahkan ke sini. Dulu masyarakat umum menggunakannya sebelum ada ambulans sosial seperti sekarang,” ungkap Suprapto (41), juru kunci Permakaman Umum SI Sragen, Sabtu (14/6/2025).
Suprapto, yang bekerja di bawah naungan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Sragen, menjelaskan bahwa kereta jenazah tersebut tak lagi layak pakai. Kerusakan pada bagian roda membuatnya tak bisa berfungsi optimal. Pernah sempat dipinjamkan ke warga Desa Bandung, Kecamatan Ngrampal, kereta itu akhirnya dikembalikan lantaran desa tersebut sudah memiliki ambulans sendiri.
Tak hanya menyimpan nilai sejarah, kereta jenazah ini juga menyisakan cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Konon, jika kereta itu bergoyang dengan sendirinya pada malam hari, maka keesokan harinya akan ada prosesi pemakaman. Namun Suprapto mengaku tak pernah menyaksikan langsung peristiwa semacam itu.
“Selama saya menjadi juru kunci sejak 2018, saya belum pernah melihat kereta itu bergoyang sendiri atau mengalami kejadian gaib apa pun,” tutur Suprapto







