IndonesiaBuzz: Jakarta, 10 Agustus 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda belasan kabupaten/kota di 10 provinsi Indonesia sepanjang pekan pertama Agustus 2026. Fenomena tersebut menjadi perhatian serius karena terjadi di tengah puncak musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebaran karhutla terjadi mulai dari wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, faktor aktivitas manusia masih menjadi salah satu pemicu dominan munculnya titik api.
Kelalaian seperti pembakaran sampah, pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar, serta kondisi suhu yang panas selama musim kemarau turut memperbesar potensi terjadinya kebakaran.
“Aktivitas kelalaian manusia seperti pembakaran sampah, pembersihan lahan dengan cara membakar, hingga suhu panas musim kemarau dilaporkan mendominasi pemicu munculnya titik api di berbagai daerah,” kata Abdul dalam keterangannya di Jakarta, Senin (10/8/26).
Di Pulau Jawa, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, menjadi salah satu wilayah dengan dampak karhutla paling luas. Berdasarkan data Direktorat Pengendalian Operasi BNPB, hingga Minggu (9/8/2026) malam, luas kawasan yang terbakar mencapai sekitar 520 hektare.
Kondisi tersebut membuat seluruh akses masuk kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan dilakukan sebagai langkah pengamanan sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan penanganan kebakaran.
Sementara itu, di luar Pulau Jawa, karhutla dengan dampak cukup signifikan terjadi di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, dengan luas lahan terbakar mencapai 72,4 hektare. Kebakaran juga tercatat di Halmahera Timur, Maluku Utara, seluas 23 hektare, serta Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dengan luas sekitar 15 hektare.
Kebakaran dengan luasan lebih kecil hingga puluhan hektare juga terjadi di sejumlah wilayah lain. Di antaranya Aceh Besar, Belitung Timur, Subang, Jepara, Banyumas, Jember, Tojo Una-Una, hingga Kota Sorong.
Sebagian kebakaran tersebut berhasil ditangani dan dipadamkan oleh petugas gabungan melalui berbagai metode penanggulangan, baik pemadaman dari darat maupun dukungan udara.
BNPB memastikan personel gabungan di daerah terdampak terus dimaksimalkan untuk mencegah api meluas. Sejumlah peralatan dan strategi disiapkan, mulai dari penyiraman darat, pengerahan truk tangki air, pembuatan sekat bakar, hingga pemadaman menggunakan helikopter water bombing di lokasi yang membutuhkan penanganan lebih cepat.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh potensi kebakaran selama musim kemarau. Aktivitas yang tampak sederhana, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah di ruang terbuka, dapat memicu kebakaran yang lebih besar ketika kondisi lingkungan kering.
Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api di sekitar permukiman maupun kawasan hutan.
Selain ancaman karhutla, BNPB mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi dampak kekeringan. Warga diminta menggunakan air bersih secara hemat dan menyiapkan cadangan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.
Periode kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Agustus hingga September 2026. Karena itu, upaya pencegahan dinilai menjadi kunci untuk menekan potensi meluasnya karhutla sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. @yudi







