IndonesiaBuzz: Kuliner – Bakpia dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta yang selalu diburu wisatawan. Kudapan berbentuk bulat pipih dengan isian manis ini ternyata memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya menjadi ikon kuliner Jogja.
Asal-usul bakpia bermula dari Tiongkok, di mana pia atau kue tradisionalnya dibuat dengan isian daging, sayuran, maupun kacang. Dalam dialek Hokkian, “bak” berarti daging dan “pia” berarti kue. Saat dibawa ke Indonesia oleh perantau Tionghoa pada awal abad ke-20, resep pia kemudian disesuaikan dengan selera masyarakat lokal. Mengingat mayoritas penduduk Yogyakarta beragama Islam, isian daging babi diganti dengan kacang hijau yang manis dan lebih mudah diterima.
Seiring waktu, bakpia mulai diproduksi secara masif di Kampung Pathuk, Yogyakarta. Dari kawasan inilah muncul sebutan Bakpia Pathuk yang hingga kini melekat sebagai ikon oleh-oleh Jogja. Pada mulanya, bakpia dijual dalam kemasan sederhana tanpa merek. Baru pada dekade 1980-an produsen mulai memberi nomor dagang seperti Bakpia Pathuk 25, 75, hingga 145 untuk membedakan satu produsen dengan yang lain.
Kini, inovasi bakpia berkembang pesat. Jika dahulu hanya dikenal dengan isian kacang hijau, kini variasinya semakin beragam mulai dari cokelat, keju, kopi, kacang merah, hingga durian. Bentuk kulitnya pun bervariasi, dari versi tradisional dengan kulit tipis renyah hingga versi modern dengan kulit lembut yang disebut bakpia premium.
Popularitas bakpia menjadikannya bukan sekadar makanan, melainkan identitas kuliner Yogyakarta. Hampir setiap wisatawan yang berkunjung ke kota ini menjadikan bakpia sebagai buah tangan wajib. Selain menjaga tradisi, keberadaan industri bakpia juga mendorong ekonomi lokal lewat ribuan usaha rumahan yang tersebar di wilayah Jogja. (Nem)



