IndonesiaBuzz: Jakarta, 17 Juni 2025 – Istilah bucin, atau budak cinta, kembali mengemuka di jagat maya. Penyebabnya? Aktor Jefri Nichol. Dalam sebuah pengakuan yang ramai dibicarakan publik, Jefri menyebut dirinya sangat bucin terhadap kekasihnya, Ameera Khan. Pasangan ini bahkan disebut kerap melakukan panggilan telepon hingga 48 jam non-stop. Hubungan jarak jauh yang mereka jalani tampaknya bukan penghalang, melainkan alasan untuk saling terhubung terus-menerus.
Fenomena bucin seperti ini bukan barang baru. Namun, setiap kali mencuat ke permukaan, pertanyaan yang sama muncul: apa sebenarnya arti bucin?
Secara harfiah, bucin adalah akronim dari “budak cinta”, istilah populer di kalangan anak muda yang merujuk pada seseorang yang terlalu tergila-gila pada pasangan. Ia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan jati diri demi mempertahankan hubungan asmara.
Namun, istilah ini bukan tanpa kontroversi. Syaikha Nabila, Psikolog Klinis Dewasa, menyebut bahwa definisi bucin harus dilihat secara kontekstual. “Kalau singkatannya budak cinta, seolah-olah seseorang itu mau melakukan apa saja untuk menyenangkan pasangannya,” kata Syaikha kepada Kompas.com, Kamis, 13 Juni 2025.
Dalam banyak kasus, bucin tidak sekadar mencintai secara mendalam, tetapi melibatkan perilaku impulsif, pengorbanan berlebihan, dan ketidakseimbangan emosional. Seseorang bisa merasa terdorong untuk terus terhubung, sebagaimana dilakukan Jefri, hanya untuk menjaga kelekatan yang mungkin rapuh.
Lantas, apa yang membuat seseorang menjadi bucin?
Elly Nagasaputra, konselor remaja dan pernikahan dari Konselingkeluarga.com, menyebut bahwa bucin kerap terjadi karena ketidakmatangan emosional. “Seseorang menjadi sangat bucin, mungkin karena belum dewasa, jadi tidak memikirkan faktor-faktor lain, lalu dia mencintai dengan cara buta,” kata Elly.
Menurutnya, individu yang matang secara mental, emosional, dan spiritual akan mencintai dengan lebih logis dan proporsional. Mereka tidak larut dalam cinta yang membutakan logika.
Sementara itu, Syaikha juga menyinggung adanya kemungkinan perilaku bucin yang muncul akibat love bombing, yakni upaya pasangan memberikan perhatian dan kasih sayang berlebihan pada fase awal hubungan untuk membangun ketergantungan emosional.
Fenomena bucin seperti ini menjadi refleksi menarik tentang bagaimana cinta, dalam konteks modern, kerap kali melibatkan relasi kuasa yang tidak setara. Dalam kasus Jefri dan Ameera, yang terlihat manis bisa jadi menyimpan dinamika psikologis yang lebih kompleks.







