IndonesiaBuzz: Internasional – Lumba-lumba dikenal sebagai mamalia laut yang cerdas dengan kemampuan luar biasa dalam belajar, memecahkan masalah, dan bernavigasi menggunakan ekolokasi. Kecerdasan ini menjadikan lumba-lumba tidak hanya menarik untuk penelitian ilmiah tetapi juga dimanfaatkan dalam berbagai operasi militer, seperti perlindungan pangkalan kapal selam dan pengawasan bawah air.
Sejarah dan Peran Militer
Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) adalah salah satu pihak yang secara aktif melibatkan lumba-lumba dalam operasi militer melalui Navy’s Marine Mammal Program (NMMP) atau Program Mamalia Laut Angkatan Laut.
Program ini telah melatih ratusan lumba-lumba hidung botol dan singa laut California sejak tahun 1959, dikutip dari IFL Science, Minggu (8/12/2024). Selain AS, Rusia juga diketahui menjalankan program serupa untuk tujuan strategis.
Program pelatihan mamalia laut ini mencapai puncaknya pada 1980-an, ketika lebih dari 100 lumba-lumba dilatih di fasilitas militer AS. Hingga kini, mamalia laut ini tetap digunakan untuk mendukung berbagai operasi, menunjukkan betapa vitalnya peran mereka dalam strategi militer.
Lokasi dan Jenis Pelatihan
Pelatihan lumba-lumba dilakukan di beberapa pangkalan militer utama, seperti Naval Submarine Base Kings Bay di Georgia dan Naval Base Kitsap di dekat Seattle, Washington. Dari pangkalan ini, lumba-lumba dikerahkan ke berbagai lokasi, termasuk Teluk Cam Ranh di Vietnam, Teluk Persia, dan Pelabuhan Umm Qasr di Irak.
Kemampuan unik lumba-lumba dalam mendeteksi benda-benda, seperti ranjau di perairan dangkal dan keruh, membuat mereka sangat efektif di medan yang sulit dijangkau teknologi manusia. Selain itu, kemampuan menyelam hingga ratusan meter tanpa risiko yang biasa dialami penyelam manusia menjadikan mereka aset penting dalam misi bawah laut.
Lumba-lumba dilatih untuk membawa kamera, menyampaikan pesan, mendeteksi penyelam musuh, dan menemukan ranjau. Sementara itu, singa laut dilatih untuk mengambil ranjau, dan paus beluga digunakan dalam patroli perairan. Semua pelatihan ini didukung oleh anggaran militer yang signifikan sebesar lebih dari 8 juta dollar AS.
Meskipun efektivitas lumba-lumba dalam operasi militer tidak diragukan, penggunaan mereka memunculkan kritik dari kelompok pemerhati hak asasi hewan. Kelompok-kelompok ini menyoroti etika di balik pelatihan yang memaksa mamalia laut menjalankan tugas berbahaya tanpa pemahaman tentang risiko yang dihadapi.
Terlepas dari kontroversi, lumba-lumba dan mamalia laut lainnya kemungkinan besar akan terus dimanfaatkan dalam operasi militer. Negara-negara seperti AS dan Rusia terus mengembangkan program pelatihan untuk memanfaatkan kemampuan unik mamalia ini demi mendukung kepentingan strategis mereka. @wara-e







