IndonesiaBuzz: Wonogiri, 13 Januari 2026 – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Wonogiri pada Senin (12/1/2026) sore hingga malam memicu bencana tanah longsor di sejumlah wilayah. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa tersebut menyebabkan kerusakan parah pada rumah warga, infrastruktur desa, serta mengganggu akses dan jaringan utilitas.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, mengungkapkan tanah longsor terjadi di beberapa titik, yakni Kelurahan Balepanjang, Kecamatan Jatipurno; Desa Girimarto, Kecamatan Girimarto; serta Desa Mojoreno dan Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Sidoharjo.
“Tanah longsor dipicu hujan lebat yang mengguyur wilayah timur Wonogiri sejak Senin sore hingga malam. Curah hujan yang mencapai 73,5 milimeter menyebabkan kejenuhan tanah, sehingga memicu longsor di sejumlah titik dan meluapnya aliran sungai di wilayah Sidoharjo,” jelas Fuad, Selasa (13/1/2026).
Di Kelurahan Balepanjang, longsor menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami rusak berat. Material longsor juga sempat menutup jalan desa dan memutus akses warga. Sementara di Desa Girimarto, satu rumah warga rusak parah setelah tertimpa talut yang jebol. Di Kecamatan Sidoharjo, dapur rumah warga ambrol akibat terjangan tebing longsor. Selain itu, di beberapa wilayah lainnya, pohon tumbang dilaporkan menimpa jaringan listrik milik PLN.
BPBD Wonogiri bersama unsur terkait telah melakukan pemantauan dan asesmen di lokasi-lokasi terdampak. Warga setempat secara swadaya menutup area longsor menggunakan terpal untuk mencegah pergerakan tanah susulan. Evakuasi dan pembersihan material longsor dilaksanakan pada Selasa dengan melibatkan berbagai pihak.
Fuad mengimbau masyarakat, khususnya warga di Kelurahan Sidoharjo dan wilayah rawan lainnya, untuk meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, potensi longsor susulan masih tinggi apabila intensitas hujan kembali meningkat.
“Tanah longsor masih menjadi ancaman bencana paling berisiko di Wonogiri, terutama saat musim hujan. Masyarakat diharapkan terus meningkatkan kesiapsiagaan dan segera melapor jika melihat tanda tanda pergerakan tanah,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 162 kejadian bencana di Kabupaten Wonogiri, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 134 kejadian. Dari total tersebut, mayoritas merupakan bencana tanah longsor dengan 89 kejadian. Disusul bencana angin kencang sebanyak 43 kejadian, erosi 43 kejadian, serta banjir dan kebakaran besar masing-masing enam kejadian. Jenis bencana lainnya tercatat dengan frekuensi di bawah lima kejadian.
Fuad menambahkan, kondisi geografis Wonogiri yang didominasi perbukitan, lereng, dan pegunungan membuat wilayah ini sejak lama rawan terhadap bencana tanah longsor. Banyak permukiman warga berada di kawasan lereng, sehingga risiko bencana meningkat saat curah hujan tinggi.
“Dengan kondisi alam seperti ini, kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak bencana,” tegasnya.
Sementara itu, Kepolisian Resor Wonogiri turut terlibat dalam penanganan dampak longsor. Kasi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo melaporkan, kerja bakti evakuasi material longsor di Kecamatan Jatipurno telah dilaksanakan pada Selasa siang.
“Sejak pagi, personel Polsek Jatipurno bersama unsur Forkopimcam dan masyarakat setempat melakukan kerja bakti membersihkan material longsor yang masuk ke dapur rumah milik Wakidi, salah satu warga terdampak,” kata AKP Anom Prabowo.
Sinergi lintas instansi dan partisipasi masyarakat diharapkan dapat mempercepat pemulihan pascabencana, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana susulan di wilayah Wonogiri.(@Yudi S/Koresponden Wonogiri)







