IndonesiaBuzz: Wonogiri, 4 Oktober 2026 – Paguyuban Ibu dan Istri Anggota DPRD (PIIAD) Wonogiri mendorong perempuan turut mengambil peran dalam pelestarian batik sebagai warisan budaya. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan membatik yang digelar dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.
Kegiatan berlangsung di Gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Wonogiri, Sabtu (3/10/26). Pelatihan mengangkat tema “Melestarikan Budaya, Menguatkan Peran Ibu”.
Ketua PIIAD Wonogiri Sugiyarti Sriyono mengatakan, membatik tidak semata-mata merupakan kegiatan menghasilkan kain bermotif. Lebih dari itu, batik memiliki nilai budaya yang berkaitan dengan identitas dan jati diri bangsa.
“Batik bukan sekadar kain, melainkan identitas, falsafah, dan jati diri bangsa,” ujar Sugiyarti.
Membatik Tak Berhenti pada Kegiatan Seremonial
Sugiyarti menegaskan, pelatihan membatik tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam memperingati Hari Batik Nasional.
Menurutnya, perempuan memiliki ruang strategis untuk ikut menjaga keberlangsungan budaya, terutama melalui lingkungan keluarga. Pengetahuan mengenai batik diharapkan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya sehingga pelestarian budaya tidak terputus.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan perempuan yang mampu menjadi teladan dalam menjaga budaya sekaligus memperkuat peran ibu di tengah keluarga dan masyarakat.
“Kiranya dari canting yang kita pegang ini lahir sebuah pergerakan. Bergerak menjadi teladan pelestarian budaya dan bergerak ambil bagian menguatkan peran ibu,” kata Sugiyarti.
Canting Mengajarkan Kesabaran dan Ketelitian
Selain menjadi sarana pelestarian budaya, Sugiyarti menilai proses membatik juga mengandung nilai-nilai kehidupan yang relevan diterapkan dalam keseharian.
Membatik membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Setiap goresan menggunakan canting membutuhkan kehati-hatian agar menghasilkan motif sesuai dengan yang diharapkan.
“Melalui kegiatan membatik ini kita mengukuhkan tiga nilai luhur. Pertama kesabaran, kedua ketelitian dan ketiga kebanggaan,” tutur Sugiyarti.
Nilai-nilai tersebut, kata dia, menjadi bagian penting yang perlu dikenalkan melalui kegiatan membatik, terutama kepada perempuan sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat.
Perempuan Didorong Jadi Penggerak Pelestarian Batik
Melalui kegiatan tersebut, PIIAD Wonogiri ingin memperluas pemahaman bahwa pelestarian batik bukan hanya soal mengenakan kain batik. Masyarakat juga perlu memahami proses, filosofi, serta nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Perempuan diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak untuk memastikan batik tetap dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang.
Dengan demikian, batik tidak hanya hadir sebagai busana dalam berbagai kesempatan, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (@Yudi S/Koresponden Wonogiri).






