IndonesiaBuzz: Ngawi, 6 Juli 2026 – Pemerintah Kabupaten Ngawi mengawali rangkaian peringatan Hari Jadi ke-668 dengan menggelar tradisi Jamasan Pusaka di Pendopo Wedya Graha, Sabtu (5/7/26) malam. Prosesi budaya tahunan tersebut menghadirkan makna baru setelah Kabupaten Ngawi resmi menambah satu pusaka daerah, Kanjeng Kyai Parikesit, yang melengkapi empat pusaka yang selama ini menjadi simbol sejarah dan identitas daerah.
Penambahan pusaka baru menjadikan Kabupaten Ngawi kini memiliki lima pusaka daerah, yakni Tombak Kyai Singkir, Tombak Kyai Songgo Langit, Payung Tunggul Wulung, Kyai Cluring, dan Kanjeng Kyai Parikesit. Kehadiran pusaka baru tersebut menjadi penanda penting dalam peringatan Hari Jadi ke-668 sekaligus merepresentasikan arah pembangunan daerah yang menempatkan inovasi sebagai fondasi masa depan.
Prosesi jamasan berlangsung khidmat dengan dipimpin tokoh spiritual yang telah ditunjuk. Satu per satu pusaka dibersihkan sebagai simbol penyucian sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Setelah prosesi selesai, kelima pusaka dikirab mengelilingi Kota Ngawi sebelum kembali disemayamkan di palereman pusaka.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan tradisi Jamasan Pusaka bukan sekadar seremoni budaya, melainkan momentum untuk merawat identitas daerah sekaligus memperkuat kesinambungan nilai-nilai kepemimpinan dari generasi ke generasi.
“Jamasan pusaka ini merupakan kegiatan rutin yang kita selenggarakan setiap menyambut Hari Jadi Kabupaten Ngawi. Bertepatan dengan usia Kabupaten Ngawi yang ke-668, ada sesuatu yang istimewa, yakni penambahan piandel agung Kabupaten Ngawi sebagai tetenger atau penanda bagi setiap kepala daerah dari waktu ke waktu. Ini menjadi tinggalan berupa pusaka,” ujar Ony.
Menurut Ony, pusaka baru tersebut diberi nama Kanjeng Kyai Parikesit karena mengandung filosofi yang sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Ngawi. Nama Parikesit diambil dari tokoh pewayangan, putra Abimanyu sekaligus cucu Arjuna, yang dalam bahasa Sanskerta berarti “sang pencari.”
Filosofi tersebut dimaknai sebagai semangat untuk terus mencari solusi, melahirkan inovasi, serta menjawab berbagai tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
“Parikesit memiliki makna sang pencari. Filosofi itu kami maknai sebagai semangat untuk terus mencari solusi, berinovasi, dan menjawab berbagai tantangan zaman. Oleh karena itu, kami bersama Wakil Bupati dan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Ngawi sepakat memberikan nama Kanjeng Kyai Parikesit pada pusaka baru ini,” jelasnya.
Ia berharap nilai yang terkandung dalam pusaka tersebut mampu menjadi inspirasi bagi pemerintah maupun masyarakat untuk membangun daerah melalui semangat kebersamaan, gotong royong, kreativitas, dan inovasi yang berkelanjutan.
Menurut Ony, tantangan pembangunan saat ini menuntut kemampuan daerah untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat.
“Di era sekarang yang penuh tantangan, Kabupaten Ngawi membutuhkan kebersamaan, gotong royong, inovasi, dan strategi agar pembangunan terus berjalan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Bupati memaknai Hari Jadi Kabupaten Ngawi ke-668 sebagai titik penguatan visi pembangunan menuju masyarakat yang semakin mandiri, produktif, dan berdaya saing. Melalui visi Semesta Berencana Jilid II, pemerintah daerah berkomitmen membangun sumber daya manusia yang memiliki etos kerja tinggi, kemampuan berinovasi, serta kemandirian ekonomi dan sosial.
“Di usia Kabupaten Ngawi yang ke-668 ini, harapan kami adalah menuju era kemandirian masyarakat. Melalui berbagai strategi dan inovasi, kami ingin masyarakat Kabupaten Ngawi memiliki etos kerja yang tinggi, daya saing yang kuat, sehingga mampu mandiri dan berdaulat secara ekonomi maupun sosial,” pungkasnya.
Tradisi Jamasan Pusaka menjadi pembuka seluruh rangkaian Hari Jadi Kabupaten Ngawi yang setiap tahun diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. Di balik prosesi budaya tersebut, tersimpan pesan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada kemajuan fisik, tetapi juga pada kemampuan menjaga identitas, merawat nilai sejarah, serta menjadikan budaya sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Dengan hadirnya Kanjeng Kyai Parikesit, Pemerintah Kabupaten Ngawi menegaskan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan simbol arah perjalanan daerah menuju masa depan yang lebih inovatif, berdaya saing, dan tetap berakar pada nilai-nilai luhur bangsa. (Esaputra /Koresponden Ngawi).







