IndonesiaBuzz: Jakarta, 15 Juni 2025 — Di era serba ambisius ini, kalimat seperti “mimpi besar nggak boleh kecil hanya karena gaji kecil” sering dilontarkan sebagai penyemangat. Namun di sisi lain, fenomena ini juga melahirkan gaya hidup yang dikenal sebagai “Gaji UMR, Mental CEO”—sebuah istilah untuk menggambarkan orang-orang yang memaksakan standar hidup tinggi di tengah keterbatasan penghasilan.
inspiratif atau justru ilusi sosial?
Mental CEO di Tengah Realita Ekonomi
Tak bisa dipungkiri, generasi muda hari ini tumbuh dalam atmosfer motivasi yang masif. Media sosial dipenuhi kutipan-kutipan seperti “fake it till you make it”, “stay hungry, stay foolish”, atau “hustle hard”. Mereka didorong untuk berpikir besar, tampil percaya diri, dan bergerak cepat.
Namun ketika semangat membara itu tidak dibarengi realita finansial yang stabil, banyak yang akhirnya terjebak pada hidup penuh tekanan—berpenampilan seperti eksekutif, gaya seperti entrepreneur sukses, tapi dompet pas-pasan.
“Banyak teman saya yang gaji UMR, tapi tetap ngotot nongkrong di coffee shop mahal demi ‘personal branding’. Bukan salah sih, cuma kadang jadi beban sosial tersendiri,” ungkap Daffa, karyawan swasta berusia 24 tahun di Jakarta.
Budaya Hustle: Antara Motivasi dan Eksploitasi Diri
Fenomena ini erat kaitannya dengan budaya hustle—bekerja tanpa henti demi ambisi. Meski terlihat produktif, gaya hidup ini bisa jadi bumerang bagi kesehatan mental dan keuangan.
Menurut psikolog klinis dr. Tania Salim, banyak anak muda yang merasa bersalah jika tidak terlihat “berprogres”. “Ketika realitas tidak sesuai ekspektasi, yang muncul adalah kelelahan, perasaan gagal, hingga depresi diam-diam. Padahal, yang salah bukan mereka, tapi sistem yang memberi tekanan tanpa solusi nyata,” jelasnya.
Tekanan Sosial dan Ilusi Kesuksesan
Media sosial memainkan peran besar dalam membentuk persepsi ini. Terlihat sukses menjadi lebih penting daripada benar-benar stabil. Orang lebih terpaku pada estetika unggahan, bukan kondisi asli di balik layar.
“Orang jadi takut terlihat biasa saja. Padahal nggak semua orang harus punya startup, investasi kripto, atau branding sebagai ‘young achiever’ di usia 23,” kata Erin Wulandari, penulis buku Quarter-Life Survival Kit.
Di sisi lain, mental “nggak mau kalah” kadang membuat seseorang mengorbankan kebutuhan dasar demi menjaga citra. Skincare jutaan, gadget terbaru, bahkan cicilan mobil demi dianggap ‘pantas’—semuanya jadi bagian dari pertunjukan yang melelahkan.
Saatnya Revisi Definisi Sukses
Fenomena “Gaji UMR, Mental CEO” menunjukkan bahwa kita sedang hidup di zaman di mana branding pribadi bisa lebih kuat dari isi rekening. Tapi ini juga jadi momentum untuk mendefinisikan ulang arti sukses: bukan semata soal penampilan atau pencapaian viral, tapi tentang kestabilan, ketenangan, dan kejujuran pada diri sendiri.
Berani hidup apa adanya di tengah tekanan sosial juga bentuk keberanian. Menunda gengsi, hidup sesuai kemampuan, dan mengatur prioritas adalah langkah lebih sehat dibanding memaksakan pencitraan yang akhirnya membebani.







